Kamis, 4 Juni 2026

Mulai Puasa 2026 Jadinya Kapan? Inilah Hasil Keputusan Ramadhan 1447 H, Pemerintah Ungkap Data Hilal dan Musyawarah Nasional

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Selasa, 17 Februari 2026 | 21:21 WIB
Pengumuman hasil isbat 1 Ramadhan 1447 H. (YouTube/Kementerian Agama)
Pengumuman hasil isbat 1 Ramadhan 1447 H. (YouTube/Kementerian Agama)

SketsaNusantara.id - Pemerintah melalui Kementerian Agama menggelar sidang isbat untuk menetapkan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah.

Sidang tersebut berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa malam, 17 Februari 2026.

Sidang isbat dimulai sekitar pukul 19.37 WIB. Hasilnya diumumkan langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar setelah proses musyawarah bersama berbagai unsur.

Baca Juga: Besok Mulai Puasa, Ini Daftar Link Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1447 H versi Muhammadiyah untuk Seluruh Wilayah Indonesia

Pemantauan hilal dilakukan secara serentak di 96 titik yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Kegiatan ini melibatkan petugas Kemenag, ormas Islam, serta sejumlah pakar astronomi.

Berdasarkan laporan hasil rukyat dari seluruh titik pemantauan, pemerintah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

“Kami bermusyawarah dengan terbuka, kepada para pakar, astronomi, wakil rakyat, MUI, serta perwakilan ormas di Indonesia. Musyawarah itu mengacu pada hasil hisab dan rukyat yang telah dilakukan oleh tim hisab dan rukyat Kemenag dan dikonfirmasi petugas,” ucap Menag Nasaruddin Umar.

Baca Juga: Takut Haus selama Puasa Ramadhan? Cobain Resep Minuman Sekanjabin dari Iran, Dokter Zaidul Akbar: Manfaatnya Banyak

Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan data hisab serta laporan hasil rukyat. Seluruh peserta sidang menyepakati bahwa hilal tidak terlihat di seluruh wilayah Indonesia pada hari pemantauan.

“Berdasarkan data hilal hari ini, tidak memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS. Dengan tidak adanya laporan hilal terlihat, disepakati bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026. Demikian hasil sidang isbat yang kita laksanakan dan sepakati bersama,” tambahnya.

Sebelumnya, dalam seminar posisi hilal, anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag, Cecep Nurwendaya, menyampaikan bahwa posisi hilal menjelang awal Ramadan masih berada di bawah ufuk. Kondisi ini membuat hilal mustahil teramati secara visual.

“Metode penetapan awal kamariah di Indonesia menggunakan rukyat dan hisab, di mana ijtimak harus terjadi dan posisi hilal diamati setelah matahari terbenam. Pada 17 Februari 2026, secara astronomis posisi hilal masih berada di bawah ufuk,” ucap Cecep.

Secara astronomis, tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia berada pada rentang minus 2,41 derajat hingga minus 0,93 derajat. Sementara elongasi Bulan–Matahari tercatat antara 0,94 derajat hingga 1,89 derajat.

Data tersebut menunjukkan posisi hilal belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Standar tersebut mensyaratkan tinggi minimum tiga derajat dan elongasi minimum 6,4 derajat.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X