Selain itu, material bangunan tidak seluruhnya tersedia di wilayah Aceh Utara. Tim harus mendatangkan beberapa bahan dari luar daerah, termasuk dari Kota Medan. Proses distribusi material turut memengaruhi durasi pengerjaan.
Jembatan apung tersebut dibangun dari rangkaian drum yang disusun sejajar. Di atasnya dipasang papan kayu sebagai jalur lintasan utama. Struktur ini dirancang untuk menopang beban kendaraan ringan dan mobilitas warga.
Dokter Lee menegaskan bahwa jembatan tersebut bersifat sementara.
“Sekadar informasi, itu hanya jembatan darurat untuk membantu masyarakat agar mudah beraktivitas, jembatan utama belum dibangun,” paparnya. Ia juga menyampaikan bahwa konstruksi dirancang agar mampu menyesuaikan kenaikan debit air saat banjir.
Saat ini, wilayah Aceh Utara memasuki masa transisi darurat menuju pemulihan. Status tersebut berlaku selama tiga bulan, terhitung sejak 1 Februari hingga 30 April 2026. Penetapan ini diputuskan melalui rapat Forkopimda dan pihak terkait pada 31 Januari 2026.
Dengan hampir rampungnya jembatan apung di Sawang, diharapkan aktivitas warga kembali berjalan normal. Akses darat yang pulih akan mempercepat pemulihan ekonomi serta mendukung distribusi bantuan dan pelayanan publik di wilayah terdampak banjir.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Aceh Masih Bergulat dengan Lumpur Usah Banjir, Waktu Menuju Ramadhan Terus Berjalan
Togap MCI Masak untuk Korban Banjir Aceh Tamiang, Cerita Langsung dari Lokasi yang Masih Dipenuhi Lumpur dan Puing Rumah
PMI Jember Kembali Kirim Relawan ke Aceh, Bertugas Olah Air Bersih bagi Warga Terdampak Banjir dan Longsor
Satpol PP Razia ASN Nongkrong di Warkop saat Jam Kerja, Video Kocar-kacir di Banda Aceh Viral
Banjir Bandang Sudah Berlalu, Namun Dusun Sarah Raja Aceh Utara Masih Terputus Akses dan Butuh Bantuan Dasar