SketsaNusantara.id - Jembatan apung yang menghubungkan Desa Sawang dengan sejumlah desa lain di Aceh Utara segera rampung.
Proyek ini menjadi solusi darurat bagi warga yang selama dua bulan terakhir harus bergantung pada perahu getek usai banjir besar.
Sejak akses darat terputus, aktivitas warga sangat terbatas. Setiap penyeberangan memerlukan biaya tambahan.
Kondisi tersebut memengaruhi mobilitas harian, distribusi logistik, hingga aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Pembangunan jembatan apung dikerjakan oleh sekitar 30 personel Yonzipur 5/ABW Kodam V/Brawijaya bersama Kodim 0103/Aceh Utara.
Proses pengerjaan dilakukan dengan berkoordinasi bersama Babinsa Koramil 19/Sawang.
Relawan medis yang turut memantau proses pembangunan, Dokter Lee, menyebut kondisi ekonomi warga sempat tertekan. Ia menjelaskan bahwa masyarakat harus mengeluarkan biaya tambahan hanya untuk menyeberang sungai.
“Alhamdulillah pengerjaannya hampir selesai. Masyarakat saat ini mengalami kesulitan ekonomi, untuk naik perahu getek harus membayar Rp20 ribu,” ujar Dokter Lee, dikutip dari unggahan Instagram @rully_xabian, Sabtu, 14 Februari 2026.
Selama dua bulan pascabanjir, warga hanya bisa mengandalkan getek atau rakit. Sarana tersebut tidak hanya mengangkut penumpang, tetapi juga sepeda motor dan kebutuhan harian lainnya. Namun, operasional getek sangat bergantung pada kondisi arus sungai.
Ketika debit air meningkat, penyeberangan kerap terhenti. Warga harus menunggu cukup lama hingga arus kembali tenang. Situasi ini membuat distribusi logistik, aktivitas sekolah, dan pelayanan kesehatan berjalan tidak optimal.
Pihak TNI menyebut pembangunan jembatan apung menghadapi sejumlah kendala. Medan di wilayah Sawang dinilai cukup ekstrem, dengan lebar sungai yang besar dan arus deras. Hal tersebut menuntut perencanaan teknis yang lebih matang.
Komandan Yonzipur 5/ABW, Letkol Czi Wahyu Wuhono Widhi Nugroho, menjelaskan tantangan utama pembangunan berasal dari kondisi alam dan ketersediaan material. “Untuk di Sawang ini medannya luar biasa, sungainya tidak ada yang kecil, besar semua, luas. Sehingga perlu perencanaan khusus sendiri,” ucapnya.
Artikel Terkait
Aceh Masih Bergulat dengan Lumpur Usah Banjir, Waktu Menuju Ramadhan Terus Berjalan
Togap MCI Masak untuk Korban Banjir Aceh Tamiang, Cerita Langsung dari Lokasi yang Masih Dipenuhi Lumpur dan Puing Rumah
PMI Jember Kembali Kirim Relawan ke Aceh, Bertugas Olah Air Bersih bagi Warga Terdampak Banjir dan Longsor
Satpol PP Razia ASN Nongkrong di Warkop saat Jam Kerja, Video Kocar-kacir di Banda Aceh Viral
Banjir Bandang Sudah Berlalu, Namun Dusun Sarah Raja Aceh Utara Masih Terputus Akses dan Butuh Bantuan Dasar