SketsaNusantara.id - Rencana peningkatan batas investasi saham bagi industri asuransi dan dana pensiun menjadi hingga 20 persen per emiten dinilai memberi ruang fleksibilitas lebih luas.
Namun, kebijakan tersebut memerlukan penguatan tata kelola dan manajemen risiko yang disiplin.
Kebijakan ini diarahkan untuk memperdalam pasar keuangan domestik serta memperkuat peran investor institusional jangka panjang.
Di sisi lain, dinamika pasar yang fluktuatif menuntut kehati-hatian agar risiko tidak terkonsentrasi.
IFG Progress menilai peningkatan batas investasi harus ditempatkan dalam kerangka tata kelola yang ketat. Setiap ruang fleksibilitas dinilai perlu diimbangi dengan pengawasan dan seleksi aset yang terukur.
Kepala IFG Progress, Ibrahim Kholilul Rohman, menegaskan bahwa arah kebijakan ini sejalan dengan upaya memperkuat kapasitas pembiayaan jangka panjang. Menurutnya, fleksibilitas perlu berjalan bersamaan dengan penguatan tata kelola.
“Fleksibilitas investasi memang penting untuk meningkatkan kapasitas pembiayaan jangka panjang. Namun, setiap ruang fleksibilitas harus diimbangi dengan penguatan governance, seleksi aset yang ketat, serta pengelolaan risiko berbasis profil liabilitas masing-masing institusi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saham berkapitalisasi besar dan likuid relatif memiliki volatilitas yang lebih terkendali. Meski demikian, peningkatan batas investasi tetap membuka potensi risiko konsentrasi.
Risiko tersebut dinilai semakin relevan di pasar berkembang yang sensitif terhadap sentimen nonfundamental. Penetapan kriteria saham perlu mempertimbangkan kualitas tata kelola emiten dan stabilitas kinerja keuangan.
Selain likuiditas, transparansi informasi dan praktik tata kelola perusahaan dinilai menjadi faktor penting. Pendekatan ini diharapkan mampu menekan potensi tekanan risiko jangka panjang.
IFG Progress juga menekankan pentingnya prinsip asset liability matching dalam pengelolaan investasi. Prinsip ini memastikan kecukupan aset untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dan panjang.
Karakteristik liabilitas yang berbeda antar lembaga menuntut strategi investasi yang tidak seragam. Setiap institusi perlu menyesuaikan komposisi portofolio dengan kebutuhan likuiditas dan horizon kewajiban.
Asuransi umum, misalnya, cenderung mempertahankan pendekatan konservatif. Kebutuhan likuiditas tinggi untuk pembayaran klaim membuat ruang investasi saham menjadi terbatas.
Artikel Terkait
IFG Mantapkan Standar Keterbukaan Informasi Publik 2026, Hadirkan KIP dan Arahkan Seluruh Holding Tingkatkan Layanan, Dokumentasi, dan Responsivitas
Tren Bencana Hidrometeorologi Menguat: IFG Paparkan Fakta Penting yang Menentukan Ketahanan Finansial Warga Indonesia
IFG Gelar IFG Journalist’s Photo Journey 2026, Ajak Pewarta Foto Angkat Cerita Pelayanan Humanis dalam Kampanye Melayani Sepenuh Hati
Lolos Penilaian Ketat INSTAR dari 900 Perusahaan, IFG Diakui Konsisten Jalankan Praktik Keberlanjutan dan Bisnis Berintegritas
Libur Panjang Natal 2025-2026, IFG Pastikan Perlindungan Perjalanan dan Aktivitas Masyarakat Tetap Aman