“Namun pada akhirnya memutuskan untuk mendarat darurat di air di pantai Nabire,” tambahnya.
Keputusan ini menandakan bahwa pilot menilai pendaratan di landasan bandara tidak lagi memungkinkan dilakukan secara aman, sehingga opsi terbaik adalah melakukan pendaratan darurat di perairan.
Pendaratan darurat di air merupakan salah satu prosedur paling berisiko dalam dunia penerbangan, terutama untuk pesawat kecil.
Dibutuhkan keterampilan tinggi, ketenangan, serta pengalaman pilot untuk dapat melakukan manuver ini tanpa menimbulkan korban jiwa. Oleh karena itu, keberhasilan pendaratan darurat ini menjadi catatan penting.
Kabar baiknya, insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Gerry Soejatman memastikan dalam unggahannya bahwa crew dan pax semua selamat.
Pernyataan ini memberikan kelegaan tersendiri, baik bagi keluarga penumpang, pihak operator, maupun masyarakat luas yang mengikuti perkembangan informasi tersebut.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Mengenal ESAR, Teknik Pencarian yang Digunakan Basarnas dalam Opsar Pesawat ATR 42-500, Sering Dipakai dalam Kasus Pendaki Hilang?
Pilot Senior Hanafi Herlin Bedah Keunggulan Pesawat ATR 42-500, Terungkap Penyebab Jatuh Hingga Telan Korban
KNKT Ungkap Kemungkinan Penyebab Kecelakaan Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung Maros
Basarnas Ungkap Kemungkinan Tak Ada Korban Selamat dari Pesawat ATR 42-500, Misteri Langkah Smartwatch Co-pilot Farhan Telah Terpecahkan
Diduga Black Box Pesawat ATR 42-500 Telah Ditemukan Tim SAR Gabungan, Penyebab Jatuhnya Akan Segera Terungkap?