Ia bahkan menyinggung ancaman penggunaan senjata nuklir yang bisa membawa kehancuran total umat manusia, sebuah mimpi buruk yang diharapkan tidak pernah terjadi di kemudian hari.
"Meskipun sejarah mencatat sudah ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, tetapi sepertinya kesadaran, kepedulian, dan langkah nyata untuk mencegah peperangan itu tidak terjadi. Mengapa?" ujarnya.
"Mungkin bangsa-bangsa sedunia tidak peduli, atau tidak berdaya, atau mungkin tidak mampu untuk mencegahnya," tandasnya.
Kekhawatiran SBY bukan tanpa alasan. Dunia saat ini memang tengah dihadapkan pada sejumlah ketegangan geopolitik yang mengkhawatirkan.
Pada 3 Januari 2026, Amerika Serikat melakukan operasi militer yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Langkah ini menuai protes internasional dan dikecam sebagai pelanggaran kedaulatan negara, karena AS mengambil alih negara tersebut termasuk mengelola sumber daya alam Venezuela yang tercatat memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.
Tak lama setelah serangan terhadap Venezuela, Korea Utara meluncurkan beberapa rudal balistik.
Mengutip dari Reuters, langkah ini makin mempertegang situasi geopolitik di kawasan Asia Timur sekaligus menjadi reaksi keras terhadap operasi militer AS yang dianggap melanggar kedaulatan negara lain.
Sementara itu, Iran terlihat meningkatkan kesiapan militernya, termasuk penguatan persediaan rudal dan kesiapan tempur Garda Revolusi, di tengah ancaman kemungkinan intervensi militer AS terkait protes domestik besar-besaran.
Peristiwa besar ini menggambarkan ketegangan dunia yang menghadapi eskalasi konflik, bukan hanya sekadar ketidaksepahaman diplomatik.
Sebagaimana diketahui, Perang Dunia I (1914–1918) dan Perang Dunia II (1939–1945) adalah dua konflik global paling berdarah dalam sejarah umat manusia.
Keduanya muncul dari ketegangan geopolitik, aliansi militer yang saling berhadapan, serta perlombaan senjata yang tak terkontrol.
Belajar dari sejarah ini, banyak pakar menilai bahwa ketidakseimbangan diplomasi dan kegagalan pencegahan konflik jauh lebih berbahaya daripada kekuatan militer itu sendiri.
Artikel Terkait
5 Fakta di Balik Eskalasi Konflik di Timur Tengah: AS Bela Israel Serang Situs Nuklir Iran, Ultimatum Donald Trump Picu Kekhawatiran Perang Dunia III
Indonesia Angkat Suara atas Penangkapan Presiden Venezuela oleh Militer AS, Soroti Ancaman Preseden Berbahaya dalam Tata Dunia Global
Operasi Militer AS di Venezuela Picu Kekhawatiran, Pemerintah Pastikan Harga Minyak Indonesia Aman
Hukum Dunia Aneh? Purbaya Soroti Lemahnya PBB di Tengah Konflik AS-Venezuela, Publik Nilai Tanggapan Menkeu soal Geopolitik Lebih Baik dari Sosok Ini
Purbaya Kritisi Serangan Militer Amerika, Menkeu Optimis IHSG Rupiah Tetap Aman di Tengah Konflik AS-Venezuela Pasca Penangkapan Nicolas Maduro