Sabtu, 18 Juli 2026

Lebih dari 3 Pekan, Desa Sekumur Aceh Tamiang Masih Terputus dan Butuh Akses Darurat

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Minggu, 21 Desember 2025 | 22:00 WIB
Kondisi di Aceh pasca bencana (Dok. Andjani Azzahra)
Kondisi di Aceh pasca bencana (Dok. Andjani Azzahra)

SketsaNusantara.id - Sudah memasuki hari ke-24 sejak banjir bandang dan tanah longsor menerjang Sumatera. Bencana itu melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dampaknya masih dirasakan hingga akhir Desember 2025.

Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah terdampak terparah. Banjir besar terjadi pada 17 November 2025. Sejumlah desa mengalami kerusakan parah dan kehilangan akses utama.

Kondisi terkini Desa Sekumur terungkap melalui unggahan video Marlina Usman. Ia merupakan istri Gubernur Aceh, Muzakir Manaf. Video tersebut diunggah pada Minggu, 21 Desember 2025.

Baca Juga: Heboh Butiran Emas di Lumpur Pasca Banjir Bandang di Aceh Surut, Warga: Bencana Membawa Berkah

Dalam unggahannya, Marlina menggambarkan kehancuran yang dialami warga. “Semuanya hancur luluh lantak, tak tersisa apapun yang bisa mereka gunakan untuk membangun lagi rumah mereka,” tulisnya. Pernyataan itu menggambarkan kondisi lapangan secara menyeluruh.

Jembatan utama menuju Desa Sekumur hanyut saat banjir bandang. Akibatnya, akses darat ke desa tersebut terputus total. Hingga kini, jembatan belum dapat difungsikan kembali.

Baca Juga: Warga Aceh Tamiang Cium Dugaan Adanya Praktik Tebang Pilih, Muncul Oknum Datang ke Lokasi Bencana Untuk Angkut Kayu yang Telah Ditandai

Warga yang ingin masuk atau keluar desa harus menyeberangi sungai. Perahu nelayan menjadi satu-satunya alat transportasi. Perjalanan menuju desa membutuhkan waktu berjam-jam dari pusat kota.

Kehilangan rumah memaksa warga tinggal di pengungsian darurat. Tenda yang ada didirikan secara swadaya. Lokasinya berjarak ratusan meter dari bantaran sungai.

Akses menuju tenda masih berlumpur dan sulit dilalui. Kondisi tersebut menyulitkan distribusi bantuan. Warga juga harus berjalan kaki untuk menjangkau tempat pengungsian.

Kebutuhan mendesak warga saat ini adalah tenda layak. Selain itu, mereka membutuhkan air bersih, penerangan, serta sarana ibadah. Fasilitas dasar belum tersedia secara memadai.

Berdasarkan informasi yang disampaikan Marlina, terdapat sekitar 260 kepala keluarga. Jumlah warga terdampak mencapai sekitar 1.200 jiwa. Seluruh rumah warga dilaporkan rusak total.

Untuk kebutuhan pangan, bantuan dinilai cukup mencukupi sementara. Seorang warga menyampaikan kondisi logistik harian relatif aman. “Alhamdulillah ada donasi masyarakat, dari luar sana ada bantuan. Misal sembako, Alhamdulillah udah aman,” ujarnya.

Meski demikian, kebutuhan lain masih belum terpenuhi. Perlengkapan ibadah dan akses jalan menjadi perhatian utama. Menjelang bulan puasa, kebutuhan tersebut semakin mendesak.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Terpopuler

X