SketsaNusantara.id - Dampak bencana banjir dan longsor di Aceh tidak hanya menghancurkan permukiman warga, tetapi juga melumpuhkan fasilitas umum dan jalur distribusi bantuan.
Sejumlah jembatan penghubung antar kabupaten dan antar kampung dilaporkan putus, membuat akses ke wilayah terdampak semakin sulit.
Kondisi terparah terjadi di daerah pegunungan seperti Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues.
Hingga kini, penyaluran bantuan ke wilayah-wilayah tersebut masih menjadi tantangan besar.
Di beberapa titik, bantuan hanya dapat dikirim melalui jalur darat dengan berjalan kaki karena akses kendaraan sama sekali terputus.
"Lokasinya sangat terjal dan licin," jelas Andjani Azzahra, perempuan asal Aceh sekaligus relawan bencana.
Penyaluran bantuan melalui jalur udara menggunakan helikopter dan pesawat Hercules dinilai paling efektif.
Namun, keterbatasan jumlah armada menjadi kendala, sementara lokasi yang membutuhkan bantuan masih sangat banyak.
Penyaluran Bantuan yang Belum Merata
Dalam penyaluran bantuan, sejumlah organisasi non-pemerintah (NGO) dan komunitas lokal aktif membantu korban bencana.
Namun Andja melihat adanya persoalan baru terkait distribusi yang tidak merata.
Artikel Terkait
Warga Aceh Ungkap Harimau Sempat Turun dari Hutan Sebelum Banjir Datang, Ini Penjelasan Ahli soal Satwa Liar yang Punya Insting Akan Terjadi Bencana
Kembali Turun ke Daerah Terisolir Meski Sempat Alami Gangguan Kesehatan, Ferry Irwandi Tegaskan Komitmen Kemanusiaan untuk Korban Banjir Bandang Aceh
Tanamkan Empati Sejak Dini, SDN Lembengan 01 Ledokombo Jember Serahkan Donasi untuk Penyintas Banjir Aceh dan Sumatra
Relawan PMI Jember Ambil Peran dalam Respon Banjir Aceh, 5.000 Liter Air Bersih Disalurkan ke Wilayah Terdampak
Ferry Irwandi Ungkap Gagasannya untuk Mendistribusikan Komoditas Cabai di Aceh ke Jakarta: Over Supply, Harga Makin Turun
Cerita Mengharukan dari Posko Pengungsian Aceh, Pengungsi Banjir Berbagi Makanan kepada Relawan yang Datang Membantu