SketsaNusantara.id - Presiden Prabowo Subianto mengaku banyak mendapatkan panggilan telepon dari negara lain yang menawarkan bantuan untuk bencana banjir di Aceh dan Sumatera.
Secara tegas, Prabowo Subianto menolak tawaran bantuan dari beberapa pemimpin negara.
Prabowo Subianto merasa Indonesia masih sangat mampu menangani bencana ini.
Baca Juga: Prabowo Pastikan Rumah yang Hilang akibat Banjir di Sumatera Diganti Pemerintah
"Sehingga, saya ditelepon banyak pimpinan kepala negara ingin kirim bantuan. Saya bilang 'Terima kasih concern Anda, kami mampu'. Indonesia mampu mengatasi ini," tegasnya, dilansir dari kanal Youtube Sekretariat Presiden.
Prabowo lantas menyinggung soal desakan status bencana nasional. Menurutnya, lagi-lagi Indonesia masih mampu mengatasi bencana yang terjadi di tiga provinsi ini.
"Ada yang teriak-teriak ingin ini dinyatakan bencana nasional,"
Baca Juga: Usai Dikritik Keras Prabowo, Kini Mendagri Tito Karnavian Berhentikan Sementara Bupati Aceh Selatan
"Kita sudah kerahkan, ini 3 provinsi dari 38 provinsi. Jadi situasi terkendali," ucapnya.
Prabowo menegaskan bahwa dirinya akanmelakukan pemantauan langsung di lokasi kejadian setiap seminggu sekali.
Rencana rekonstruksi pascabencana di wilayha terdampak juga telah diagendakan.
"Saya monitor terus, dan kita sudah merencanakan segara akan kita bentuk, apakah kita akan namakan badan atau satgas rehabilitasi dan rekonstruksi,"
"Segera kita akan bangun hunian-hunian sementara dan hunian-hunian tetap," ujarnya.
Artikel Terkait
Pesan Tegas Prabowo di Hari Guru 2025 tentang Murid Nakal dan Peran Orang Tua, Kisah Kepala Sekolah dan Anak Jenderal Ini Jadi Sorotan
Fedi Nuril Minta Menteri Kehutanan Diganti, Ungkit Kata-Kata Prabowo tentang Merit System: Raja Juli Antoni Ini...
Di Hadapan Pengungsi Padang Pariaman, Prabowo Tegaskan Janji: 'Kita Sikat Maling Uang Rakyat!'
2 Bupati Menyatakan Tidak Mampu Tangani Bencana, Status Darurat Nasional Jadi Sorotan setelah Respons Prabowo di Sumatera
Prabowo Tunjukkan Foto Bayi Panda ke Ketua MPR China, Kisah Satrio Wiratama yang Lahir Setelah 10 Tahun Jadi Bagian Diplomasi di Istana Merdeka