Namun titik balik muncul setahun terakhir, ketika Kementerian Kehutanan membuka ruang dialog.
“Baru 1 tahun terakhir, itu bisa ada komunikasi dengan Kementerian Kehutanan dan NGO seperti Kalaweit. Baru 1 tahun, di mana kami bisa menyampaikan masukan, saran, minimal diskusi dan baru kemarin Pak Menteri Kehutanan datang ke sini,” ujar Chanee.
Chanee mengungkapkan bahwa kedatangan Menteri Kehutanan ke lokasi konservasi menjadi momen penting. Ia bahkan mengajak sang Menteri naik pesawat ringan untuk melihat langsung kerusakan lingkungan dari udara.
“Beliau mau mendengarkan secara langsung masukan saran sudut pandang dari Kalaweit tentang situasi alam di sini, tetapi masukan juga tentang strategi untuk melindungi misalnya kawasan konservasi menggunakan pesawat ringan misalnya,” jelasnya.
Saat penerbangan tersebut, Chanee menunjukkan berbagai kerusakan yang terjadi, seperti lubang bekas tambang batubara yang tidak direklamasi, sawit ilegal yang tumbuh di kawasan hutan produksi, dan daerah yang rusak akibat kebakaran hutan pada 2015.
“Jadi beliau bisa melihat dengan jelas dan kita juga bisa diskusi dengan dasar yang sangat jelas. Ini komunikasi sesuatu yang terserah juga. Pertama kali terjadi selama saya di Indonesia. Baru kali ini secara buka-bukaan antara empat mata, bicara jujur situasi di lapangan dengan seorang menteri kehutanan untuk bahas bagaimana ke depannya,” kata Chanee.
Menurut Chanee, momen tersebut melahirkan sedikit optimisme untuk masa depan konservasi Indonesia.
Walau optimis, Chanee mengingatkan bahwa NGO (Non-governmental organization) maupun Menteri Kehutanan tidak mungkin bekerja sendirian.
“Harus ada penegakan yang jauh lebih dengan instansi terkait, karena banyak kegiatan ilegal merajalela. Dan harus ada kebijakan dari Presiden yang mungkin dapat diubah jika fokus nomor satu adalah alam,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa kerusakan alam adalah proses panjang yang tidak bisa diperbaiki dalam waktu singkat.
“Kerusakan terjadi selama beberapa dekade. Tidak mungkin 6 bulan atau 1 tahun menyelesaikan semuanya. Kita harus berinvestasi dalam waktu,” tutur Chanee.
“Mari kita bersama lestarikan alam untuk masa depan kita,” pungkasnya.
Ia menegaskan bahwa Yayasan Kalaweit akan terus memberikan saran dan pengawasan bagi pihak-pihak yang ingin mendengar, demi menjaga hutan Indonesia untuk generasi mendatang.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Kembali Kritik Pemerintah, Fedi Nuril Minta Prabowo Tindak Tegas Pelaku Perusakan Hutan di Taman Nasional Tesso Nilo
Penggudulan Hutan di Sumatera Melonjak Tinggi Tahun 2024, Ratusan Ribu Hektar Hujan Primer Basah Hilang
Mahfud MD Bicara Blak-blakan soal Bencana Sumatera, Kerusakan Hutan, hingga Dugaan Kolusi Perizinan yang Dinilai Memicu Longsor dan Banjir
Pandawara Group Usulkan Gerakan Donasi untuk Membeli Hutan Usai Banjir Bandang Sumatra, Begini Respons Warganet
WALHI Beberkan Kerusakan Hutan 2016–2024 di Aceh, Sumut, dan Sumbar, Ratusan Izin Tambang hingga Proyek Energi Terkait Deforestasi
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni Tegaskan Tak Pernah Keluarkan Izin Pelepasan Hutan di 3 Kawasan Terdampak Banjir Aceh, Sumut, dan Sumbar