"Semakin diperjelas semakin sakit hati ini, gitu pemerintah masih ngelak penyebab banjir itu karena cuaca ekstrem dan bilang Indonesia dianugerahi perkebunan sawit tanpa ada rasa bersalah, muak banget dengernya," komentar salah satu warganet.
"Separah itu lho dan apa yang terjadi di Sumatera masih belum dinyatakan bencana nasional. Yang gundulin hutan cuma mikirin kepentingan pribadi, gak mikir dampaknya buat orang lain, miris banget!" timpal warganet lainnya.
Netizen lainnya juga ikut menyoroti peran para elite politik yang diduga memberi izin alih fungsi hutan secara masif dan menimbulkan kerugian besar bagi warga yang terdampak bencana di Sumatera.
"Lewat bencana ini kita semua sadar dan tau semua kebusukan para elit politik dan pejabat pemerintah yang ikut mengizinkan alih fungsi hutan jadi lahan sawit yang udah dilakukan bertahun-tahun silam, dan sekarang kita yang kena tanggung akibatnya," imbuh netizen lainnya.
"Keserakahan manusia menyebabkan bencana, tanggung jawab kalian semua yang bikin 10 juta hutan kita lenyap! dan apakah mereka bisa menikmati kehidupan mereka dengan uang yang melimpah ketika bumi yang mereka tinggali sudah RENTAN HANCUR oleh ulah mereka sendiri?" sindir warganet lainnya.
Dalam unggahannya, Jerome menyisipkan pesan bahwa sudah saatnya Indonesia berbenah dan memperbaiki hutan yang telah dibabat habis demi masa depan yang lebih baik.
"Angka 10 juta hektar ini bukan sekedar statistik, tapi ini adalah hutan yang dibabat di Indonesia. Hutan yang seharusnya hutan itu bisa melindungi kita semua dari banyak bencana," tuturnya.
"Kalau tidak ada upaya penghijauan dan pengurangan deforestasi, maka kita yang akan menanggung semua resikonya," pungkas Jerome.
Global Forest watch mencatat bahwa Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara yang kehilangan hutan primer tropis basah terluas di dunia, berdasarkan laporan dari World Resources Institute (WRI).
Hal tersebut mengindikasikan bahwa peningkatan deforestasi di Indonesia termasuk yang paling masif secara global. Ironis, padahal Indonesia sebelumnya merupakan negara urutan ke-8 yang memiliki lahan hutan terluas di dunia.
Forest Watch Indonesia mencatat pada tahun 2017-2021 bahwa Indonesia kehilangan rata-rata 2,54 juta hektar hutan atau setara 6 kali luas lapangan sepak bola tiap menitnya.
Kehilangan hutan dalam skala besar menimbulkan efek bertingkat yang dampak langsung pada keberlangsungan ekosistem dan mengancam kehidupan habitat satwa liar ingga berkurangnya kemampuan bumi menyerap karbon yang mengakibatkan pemanasan global.
Situasi ini bahkan memicu sorotan Internasional termasuk dari aktivis lingkungan, Harrison Ford hingga Leonardo DiCaprio yang ikut menggarisbawahi urgensi upaya konservasi dan pengelolaan hutan lebih ketat demi masa depan yang lebih baik.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Berkelas! Komeng Sentil Kemenhut soal Deforestasi yang Jadi Penyebab Banjir di Jakarta, Gaya Komunikasi Serius tapi Kocak Kembali Ramai Jadi Sorotan
Kembali Kritik Pemerintah, Fedi Nuril Minta Prabowo Tindak Tegas Pelaku Perusakan Hutan di Taman Nasional Tesso Nilo
Penggudulan Hutan di Sumatera Melonjak Tinggi Tahun 2024, Ratusan Ribu Hektar Hujan Primer Basah Hilang
Mahfud MD Bicara Blak-blakan soal Bencana Sumatera, Kerusakan Hutan, hingga Dugaan Kolusi Perizinan yang Dinilai Memicu Longsor dan Banjir
Pandawara Group Usulkan Gerakan Donasi untuk Membeli Hutan Usai Banjir Bandang Sumatra, Begini Respons Warganet
Stop Atraksi Politik! UAH Ingatkan Elit Politik untuk Fokus Prioritaskan Bantu Korban Bencana dan Lakukan Evaluasi hingga Serukan Taubat Nasional