Kamis, 4 Juni 2026

Moderasi Beragama Berakar Kuat pada Kearifan Lokal: Pesan Wakil Rektor III UIN KHAS Jember

Photo Author
M Purnomo, Sketsa Nusantara
- Senin, 1 Desember 2025 | 16:15 WIB
Warek III UIN KHAS Jember Dr Faizin saat menyampaikan gagasan. (Humas UIN KHAS Jember)
Warek III UIN KHAS Jember Dr Faizin saat menyampaikan gagasan. (Humas UIN KHAS Jember)

SketsaNusantara.id - Wakil Rektor III Universitas Islam Negeri Kiai Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Dr. Khoirul Faizin, menegaskan bahwa moderasi beragama di Indonesia tidak muncul tiba-tiba, melainkan berakar dalam budaya dan tradisi Nusantara.

Dr Faizin menjelaskan bahwa jauh sebelum Indonesia berdiri, masyarakat Jawa telah mengamalkan nilai keseimbangan dan toleransi yang diwariskan para Wali Songo sejak abad ke-14.

Menurutnya, etika keberagamaan yang menghargai keberagaman kultur adalah bagian alami dari kehidupan masyarakat Nusantara.

Baca Juga: UIN KHAS Jember Teguhkan Komitmen Bentuk ASN Berintegritas Lewat Sosialisasi Disiplin dan Etika Kerja

"Sejak dulu, leluhur kita sudah menanamkan sikap selaras dan saling menghormati," ujarnya.

Ia juga menyebut peran Menteri Agama RI 2014–2019, Lukman Hakim Saifuddin, sebagai sosok yang merumuskan moderasi beragama dalam konteks kebijakan modern.

Namun, Dr. Faizin menekankan bahwa konsep moderasi sejatinya merupakan pembaruan dari nilai terdahulu yang telah lama hidup dalam budaya Jawa.

Baca Juga: Kebuntuan Regulasi Karir Dosen PPPK Dinilai Hambat Kualitas SDM di PTKIN

"Semua agama pada dasarnya mengajarkan jalan tengah; konflik justru muncul dari cara pandang penganutnya. Karena itu, moderasi diarahkan pada manusia sebagai subjek, bukan pada agama sebagai objek," imbuhnya.

Faizin menghidupkan kembali berbagai konsep Jawa, seperti kabedhayen sebagai gagasan tentang keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama.

Ia juga menyoroti, prinsip memayu hayuning bawono yang menekankan bahwa setiap tindakan individu harus mempertimbangkan dampaknya terhadap harmoni sosial.

Baca Juga: Lulusan UIN KHAS Jember Didorong Jadi Penggerak Perubahan di Tengah Laju Teknologi

"Dalam perspektif Jawa, keadilan diartikan lebih luas daripada sekadar pembagian hak secara merata. Keadilan menjadi upaya menjaga keselarasan dan menghindari sikap ekstrem, sejalan dengan esensi moderasi yang memilih jalan tengah yang proporsional," sambungnya.

Pihaknya juga kemudian menyoroti masuknya ideologi transnasional yang berusaha menyingkirkan Pancasila. Ideologi tersebut, katanya, gagal memahami bahwa keragaman Indonesia merupakan hasil sejarah yang dirancang para pendiri bangsa.

Halaman:

Editor: Angga Juli Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X