Minggu, 19 Juli 2026

Batik Siger Lampung Melesat Berkat Pemberdayaan Rumah BUMN BRI, Bukti UMKM Lokal Naik Kelas dan Mendunia

Photo Author
Zuhana Anibuddin Zuhro, Sketsa Nusantara
- Senin, 1 Desember 2025 | 09:01 WIB
Batik Siger jadi kebanggaan Lampung, BRI perkuat UMKM berbasis budaya lewat rumah BUMN (Dok. BRI)
Batik Siger jadi kebanggaan Lampung, BRI perkuat UMKM berbasis budaya lewat rumah BUMN (Dok. BRI)

SketsaNusantara.id – Di sebuah sudut Kota Bandar Lampung, derap aktivitas para pengrajin batik terus bergema. Di antara aroma malam dan denting canting, berdirilah Batik Siger, sebuah usaha yang sejak lebih dari sepuluh tahun lalu menjadi motor penggerak pelestarian budaya lokal. Di baliknya ada sosok Laila Al Khusna, perempuan Lampung yang mendedikasikan hidupnya untuk melahirkan wastra khas daerah melalui pemberdayaan masyarakat.

Kecintaan Laila terhadap batik tumbuh dari keluarga pembatik. Ketika UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia pada 2009, ia melihat peluang sekaligus tantangan besar. Saat itu Lampung belum memiliki pembatik lokal, sementara pemerintah mendorong tiap provinsi menciptakan motif batik khas untuk digunakan ASN dan BUMN. Situasi tersebut membuatnya tergerak untuk mengambil peran.

Pada 2008, ia mendirikan Lembaga Kursus dan Pelatihan Batik Siger. Niatnya sederhana: membangun ekosistem pembatik asli Lampung. Perjalanannya tidak berjalan mulus. Laila pernah berkeliling RT, kelurahan, hingga komunitas ibu-ibu namun tak satu pun berminat. Hanya segelintir yang kemudian mencoba, dan dari merekalah Batik Siger bertumbuh.

Baca Juga: BRI Sabet Penghargaan GCSA dan International CSR Excellence Awards 2025 Berkat Inovasi Sosial Berkelanjutan di Seluruh Indonesia

Kini, para alumninya telah membuka usaha batik mandiri dan ikut memperluas pasar batik Lampung. Batik Siger sendiri telah menjadi ikon budaya yang memperkenalkan motif Lampung ke kancah nasional. Sekitar 80 persen penjualannya berasal dari pasar lokal, sementara sisanya dipasarkan melalui platform digital ke banyak daerah di Indonesia.

Salah satu keunggulan Batik Siger adalah komitmen kuat terhadap prinsip ramah lingkungan. Laila menerapkan sistem zero waste dengan memanfaatkan sisa bahan menjadi produk turunan. Ia juga menggencarkan penggunaan pewarna alami yang kini telah mencapai 70 persen dari total produksi. Untuk produksi yang menggunakan pewarna sintetis, ia menerapkan teknologi penyaringan limbah agar air buangan tetap aman bagi lingkungan. Komitmen inilah yang mengantarkan Batik Siger meraih penghargaan Upakarti pada 2014.

Perkembangan Batik Siger tidak lepas dari dukungan Program Rumah BUMN BRI. Laila mengisahkan bahwa ia mulai bergabung pada 2011–2012 setelah adanya imbauan pemerintah agar UMKM mengikuti pembinaan. Melalui Rumah BUMN BRI, ia mendapatkan pelatihan manajemen usaha, strategi pemasaran, hingga digital marketing. BRI juga membantu membuka akses pemasaran, termasuk menyediakan ruang bagi produk UMKM di bandara.

Baca Juga: KUR BRI Viral di TikTok, Menteri UMKM Puji Mantri yang Beberkan Aturan Tanpa Agunan dan Kuota Tambahan

Selain pembinaan, BRI juga memberikan edukasi permodalan seperti cara mengajukan kredit, memahami risiko, serta mengelola pembiayaan agar UMKM dapat bertumbuh secara sehat. Menurut Laila, seluruh ilmu tersebut dipraktekkan di perusahaannya dan terbukti memperkuat struktur bisnis Batik Siger.

Ia menyebut dukungan Rumah BUMN BRI sebagai “pendorong utama” UMKM agar mampu naik kelas.

Direktur Mikro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan komitmen BRI dalam mendorong UMKM Indonesia melalui program pemberdayaan seperti Rumah BUMN BRI. Menurutnya, penguatan ekosistem UMKM dilakukan tidak hanya lewat permodalan, tetapi juga pendampingan bisnis, literasi digital, dan perluasan jejaring pasar. Dengan strategi ini, UMKM diharapkan menjadi lebih kompetitif sekaligus menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Baca Juga: Tingkatkan Proteksi Transaksi, BRI Ajak Nasabah Waspada dan Jaga Kerahasiaan Data Perbankan

Program pemberdayaan tersebut menjadi bukti nyata peran BRI dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal dan ekonomi masyarakat. Batik Siger kini berdiri sebagai contoh sukses bagaimana UMKM berbasis budaya dapat berkembang ketika kreativitas, dukungan komunitas, dan pendampingan BUMN berjalan beriringan.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X