Melihat pola tersebut, Syarif mengusulkan pelibatan aparat penegak hukum. Ia menyebut wilayah dengan tingkat penyimpangan tinggi membutuhkan pengawasan langsung. Ia menilai langkah ini dapat membantu mengurangi penyimpangan yang berdampak pada pasokan daerah.
“Nah mungkin perlu diturunkan di sana petugas TNI dan Polri nanti. Dan itu waktu tidak lama Pak Kepala biasanya hanya 1 bulan sudah tertib,” ujarnya.
Dalam bagian lain rapat, Syarif juga menyinggung permintaan kuota BBM oleh pihak tertentu. Ia memperingatkan adanya lobi di luar mekanisme resmi. Menurutnya, kuota tambahan hanya dapat diminta oleh pemerintah daerah.
“Yang berhak meminta tambahan [kuota BBM] ini nanti adalah pemerintah kabupaten setempat, siapa bupati, walikota atau gubernur,” tegas Syarif.
Ia meminta agar tidak ada pelaku usaha yang mencoba melobi Komisi VII. Ia menegaskan bahwa penambahan pasokan memiliki mekanisme yang harus dipatuhi. Dalam rapat itu, ia juga mengingatkan potensi penyimpangan jika lobi informal masih terjadi.
“Jangan sampai ada pelaku-pelaku soal ritel swasta yang nyelonong ke komite nanti,” pungkasnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Kelangkaan BBM di SPBU Swasta, Cuitan Soleh Solihun Jadi Sorotan: Kalian Harus Beli Melalui Saya...
Stok BBM Langka, Pemerintah Turun Tangan hingga SPBU Swasta Wajib Kolaborasi dengan Pertamina untuk Pasokan
Mulai dari BBM, Listrik, hingga Pupuk, Purbaya Yudhi Sadewa Bocorkan Harga Asli Produk-Produk yang Disubsidi Pemerintah, Ternyata...
Mengenal Etanol, Senyawa Organik yang Bakal Dicampur ke BBM, Bahan Bakar Alternatif yang Ramah Lingkungan?
BBM Langka di SPBU Swasta, Pertamina Sebut Tak Cari Untung dan Buka Peluang Negosiasi Baru