BSI juga menyiapkan langkah lanjutan melalui penguatan perdagangan emas terstandarisasi, perluasan layanan simpanan emas unallocated, serta optimalisasi fasilitas penitipan emas allocated. Selain itu, pengembangan pembiayaan emas dan produk turunan berbasis emas syariah menjadi bagian dari strategi perusahaan.
Digitalisasi layanan bank emas turut menjadi fokus utama. Melalui aplikasi BYOND by BSI, masyarakat dapat membeli, menjual, atau mencetak emas mulai dari 2 gram. Sepanjang tahun, transaksi bank emas melalui aplikasi tersebut mencapai Rp2,37 triliun atau sekitar 1,06 ton. Fitur ini mempermudah akses bagi nasabah, termasuk kelompok prioritas BSI yang kini berjumlah lebih dari 74 ribu.
Dalam kesempatan lain, Chief Economist BPI Danantara Indonesia Reza Y Siregar menilai emas sebagai instrumen jangka panjang. “Emas menjadi salah satu instrumen keuangan bersifat jangka panjang yang akan terus didorong melalui Bulion Bank,” katanya. Instrumen ini dipandang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi saat pilihan investasi serupa masih terbatas.
Narasumber lain juga menegaskan keunggulan emas sebagai aset yang tahan terhadap inflasi dan sesuai dengan prinsip syariah. Pendekatan ini diharapkan memberi manfaat luas bagi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan finansial jangka panjang.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Siapa Felicitas Tallulembang? Intip Biodata Sosok yang Disebut Sebagai Dalang Muhammadiyah Menarik Dana Fantastisnya dari BSI
Segini Harta Kekayaan Felicitas Tallulembang, Sosok di Balik Keputusan Muhammadiyah Tarik Dana Triliunan Rupiah di BSI
7 Fakta Menarik Felicitas Tallulembang yang Disebut Penyebab Muhammadiyah Tarik Dana dari BSI: Suami hingga Karir
Hery Gunardi Nahkodai BRI! Pernah Sukses Besar di BSI, Kini Siap Bawa Bank Rakyat Indonesia ke Puncak Kejayaan