Mengapa Diperingati Setiap Tahun?
Alasan utamanya sederhana, karena dunia terus berubah, tetapi konflik yang lahir dari ketidaktahuan tetap sama. Konflik agama, rasisme, diskriminasi gender, hingga stereotip budaya muncul di banyak negara. Jadi, peringatan setiap tahun diperlukan untuk menjaga kesadaran publik.
UNESCO juga menekankan bahwa intoleransi tumbuh dari ketakutan, ketidaktahuan, dan pola pikir tertutup. Tanpa pendidikan dan ruang dialog, intoleransi akan menjadi norma.
Hari Toleransi Internasional pun menjadi wadah refleksi kolektif untuk membalik arah tersebut.
Indonesia dikenal sebagai negara majemuk. Namun keberagaman tidak otomatis menjamin toleransi. Banyak peristiwa di tingkat lokal menunjukkan bahwa gesekan antaridentitas dapat muncul sewaktu-waktu. Ketika perbedaan suku, agama, atau pilihan politik dibaca sebagai ancaman, hubungan sosial menjadi tegang.
Peringatan 16 November 2025 mengajak masyarakat Indonesia untuk memperkuat pendidikan toleransi. Bukan hanya di sekolah, tetapi juga di ruang digital. Penguatan literasi digital, pengendalian narasi kebencian, dan praktik komunikasi antarkelompok menjadi kebutuhan mendesak.
Pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan lembaga pendidikan memiliki peran penting. Mereka dapat mendorong program dasar seperti dialog lintas agama, penyuluhan damai, hingga kampanye anti-diskriminasi. Upaya kecil sekalipun dapat memberi dampak besar jika dilakukan secara konsisten.
Bagaimana Cara Merayakannya?
Tidak ada format tunggal untuk memperingati Hari Toleransi Internasional. Namun sejumlah praktik dapat dilakukan seperti mengadakan diskusi publik tentang nilai keberagaman, membuat kampanye edukasi di sekolah atau kampus, nenyebarkan konten positif dan anti-kebencian di media sosial, mengembangkan program lintas budaya di komunitas, memakai twibbon, membagikan ucapan di media sosial, dan lain-lain.
Intinya, peringatan ini bukan seremonial. Peringatan ini adalah pengingat bahwa masyarakat perlu terus belajar memahami perbedaan.
Toleransi adalah proses panjang yang terkait pendidikan, dialog, dan sikap terbuka. Dalam masyarakat yang terus berubah, toleransi adalah jembatan untuk tetap terhubung meski berbeda. Hari Toleransi Internasional mengingatkan bahwa perdamaian bukan hadiah, tetapi hasil praktik sosial sehari-hari.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
UNESCO Akui Bahwa Tak Ada Kaitannya dengan Pemberian Penghargaan Cannes 2025 yang Diterima Syahrini, Netizen: Sampai Turun Gunung!
Gembar-Gembor Usai Terima Penghargaan dari Cannes 2025, UNESCO Angkat Bicara Tentang Postingan Syahrini, Fix Bikin Malu?
Heboh Pacu Jalur Diklaim Negara Tetangga di Tengah Viral Tren Aura Farming, Pemerintah Indonesia Usulkan Budaya Riau Didaftarkan ke UNESCO
Wamenpar Pastikan Kesiapan Geopark Maros-Pangkep untuk Revalidasi Global Geopark UNESCO, Dorong Ekowisata dan Ekonomi Lokal
Terancam Punah, Ini 5 Fakta tentang Noken, Tas Rajut Tradisional Khas Papua yang Diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia