SketsaNusantara.id - Setiap tahun, dunia memperingati Hari Toleransi Internasional pada 16 November. Peringatan ini hadir sebagai pengingat bahwa hidup berdampingan bukan sekadar slogan.
Di tengah maraknya konflik identitas, ujaran kebencian, dan polarisasi politik, isu toleransi kerap menjadi titik paling rapuh dalam hubungan antarwarga.
Oleh sebab itu, momentum peringatan Hari Toleransi Internasional kembali relevan, termasuk bagi Indonesia yang terus membangun ruang aman bagi keberagaman.
Pada 2025, peringatan ini terasa semakin mendesak. Arus informasi bergerak cepat. Perdebatan kecil dengan mudah berubah menjadi kebencian kolektif. Media sosial memperkuat suara ekstrem.
Dalam situasi seperti ini, toleransi bukan sekadar ajakan moral, tetapi kebutuhan sosial. Ketika masyarakat gagal menjaga ruang dialog, yang muncul adalah kecurigaan dan ketegangan.
Hari Toleransi Internasional mengajak publik berhenti sejenak. Mengajak kita menilai ulang cara kita berhubungan dengan orang lain. Apakah kita benar-benar memahami perbedaan? Atau hanya menoleransinya sejauh tidak mengganggu kenyamanan diri sendiri?
Apa Itu Hari Toleransi Internasional?
Dilansir dari situs UNESCO, Hari Toleransi Internasional adalah hari peringatan yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Momen ini pertama kali dideklarasikan pada 1995, bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-50 UNESCO. Mengutip dokumen UNESCO Declaration of Principles on Tolerance (1995), toleransi dimaknai sebagai “rasa hormat, penerimaan, dan apresiasi terhadap keragaman budaya dunia.”
Prinsip ini menekankan bahwa toleransi bukan sikap pasif. Toleransi adalah kemampuan aktif untuk mengakui hak orang lain untuk berbeda.
Deklarasi ini menjadi salah satu sumber kredibel yang sering dijadikan dasar dalam kajian budaya dan pendidikan.
UNESCO menegaskan bahwa toleransi adalah fondasi dasar bagi perdamaian global. Tanpa toleransi, sistem demokrasi dan kehidupan sosial mudah retak. Di sinilah relevansi Hari Toleransi Internasional mendapatkan pijakannya.
Artikel Terkait
UNESCO Akui Bahwa Tak Ada Kaitannya dengan Pemberian Penghargaan Cannes 2025 yang Diterima Syahrini, Netizen: Sampai Turun Gunung!
Gembar-Gembor Usai Terima Penghargaan dari Cannes 2025, UNESCO Angkat Bicara Tentang Postingan Syahrini, Fix Bikin Malu?
Heboh Pacu Jalur Diklaim Negara Tetangga di Tengah Viral Tren Aura Farming, Pemerintah Indonesia Usulkan Budaya Riau Didaftarkan ke UNESCO
Wamenpar Pastikan Kesiapan Geopark Maros-Pangkep untuk Revalidasi Global Geopark UNESCO, Dorong Ekowisata dan Ekonomi Lokal
Terancam Punah, Ini 5 Fakta tentang Noken, Tas Rajut Tradisional Khas Papua yang Diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia