Minggu, 19 Juli 2026

Maman Abdurrahman Dikecam karena Ucapan soal Barang KW, Ini Penjelasan dan Permintaan Maaf Menteri UMKM

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Kamis, 23 Oktober 2025 | 06:30 WIB
Maman Abdurrahman memberikan klarifikasi terkait pernyataannya. (Instagram/maman.abdurrahman.st)
Maman Abdurrahman memberikan klarifikasi terkait pernyataannya. (Instagram/maman.abdurrahman.st)

SketsaNusantara.id - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman akhirnya menyampaikan permintaan maaf usai menuai kritik publik terkait ucapannya yang menyinggung soal produk tiruan.

Ia mengakui, pernyataan yang sempat viral itu merupakan kekeliruan dalam penggunaan analogi saat menjelaskan strategi penguatan industri kecil.

“Saya atas nama pribadi mohon maaf kalau sampai misalnya terpersepsikannya seperti itu,” ujar Maman kepada awak media di Gedung Kementerian UMKM pada Rabu, 22 Oktober 2025.

Baca Juga: Menteri UMKM Maman Abdurrahman Tegaskan Tak Gunakan Uang Negara untuk Perjalanan Istri ke Eropa, Datangi KPK Bawa Bukti Lengkap

Maman menjelaskan, dirinya tidak bermaksud mendorong pelaku UMKM untuk meniru merek dagang asing secara ilegal.

Ucapannya, kata dia, dimaksudkan untuk mencontoh strategi industrialisasi dari negara-negara yang pernah belajar dengan cara serupa, seperti Korea Selatan dan Tiongkok.

Klarifikasi soal Analogi Produk KW

Menurut Maman, inti dari pernyataannya bukan mendukung praktik pelanggaran hak kekayaan intelektual, tetapi menekankan pentingnya proses pembelajaran industri melalui observasi dan adaptasi.

Baca Juga: Maman Abdurrahman Datangi Kantor KPK Imbas Viralnya Kasus Istri Diduga Gunakan Fasilitas Negara untuk Kunjungan ke Eropa

“Sebetulnya esensinya bukan mendukung produk KW. Saya cuma keliru menggunakan analogi, misalnya menyebut Louis Vuitton jadi Louis Vuttong atau Dior jadi Doir,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa maksud sebenarnya adalah “bukan soal meniru secara negatif, tapi tentang proses pembelajaran dan replikasi industri.”

Dalam klarifikasinya, Maman mencontohkan bagaimana Korea Selatan pada masa awal industrialisasi tahun 1960-an banyak belajar dari Jepang dan Amerika Serikat. Melalui proses itu, negara tersebut akhirnya mampu melahirkan perusahaan besar seperti LG dan Samsung yang kini menjadi pemain global di bidang teknologi.

“Dia (Korea Selatan) meniru, tapi tidak plek-plekan. Mereka melakukan amati, tiru, modifikasi sampai akhirnya punya produk sendiri. Nah, yang saya maksud adalah spirit itu,” tambahnya.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X