Kamis, 4 Juni 2026

Mooncake Festival di TITD Jember: Perkuat Harmoni dan Lestari Budaya Tionghoa

Photo Author
Gita Pamuji, Sketsa Nusantara
- Selasa, 7 Oktober 2025 | 18:00 WIB
Suasana saat Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Pay Lien San di Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, Jember, merayakan Festival Mooncake. (SketsaNusantara.id/Gita Pamuji)
Suasana saat Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Pay Lien San di Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, Jember, merayakan Festival Mooncake. (SketsaNusantara.id/Gita Pamuji)

 

SketsaNusantara.id – Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Pay Lien San di Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, merayakan Festival Mooncake atau Kue Bulan pada Senin malam 6 Oktober 2025.

Perayaan ini berlangsung meriah dengan mengangkat makna keharmonisan dan pelestarian tradisi Tionghoa yang telah berlangsung turun-temurun.

Ketua TITD Pay Lien San Jember, Hery Nofem Stadiono atau Jap Swie Liong, menjelaskan, festival ini merupakan warisan budaya yang berakar pada legenda kuno tentang Dewi Bulan yang terbang untuk menambal langit yang "bocor,".

Baca Juga: Polemik MBG Mencuat, DPRD Jember Beri Kritik Pedas ke SPPG: Masih Ada yang Belum Miliki Sertifikat Higienis dan Sanitasi

Hal ini dipercaya menjadi penyebab hujan di luar musim panen.

“Sejarah legendanya begitu,” katanya, Selasa 7 Oktober 2025.

Selanjutnya, Wakil Ketua TITD Pay Lien San, Kanjeng Hendry, menekankan bahwa perayaan kue bulan adalah wujud rasa syukur kepada semesta dan momentum untuk memohon kelancaran rencana di tahun berjalan.

Baca Juga: Soroti Pemenang Lelang Proyek Infrastruktur, Komisi C DPRD Jember Sebut Masih Ada Rekanan yang Tawar Harga di Bawah 80 Persen

"Menghaturkan syukur kepada semesta. Kalau zaman dulu itu menghaturkan syukur pada Dewa Bumi," ujarnya.

Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, berkeyakinan bahwa pada festival ini delapan dewa turun, termasuk Dewi Bulan. Dalam tradisi, sembahyang kepada Dewi Bulan sering dikaitkan dengan harapan mendapatkan jodoh yang baik.

“Kepercayaan kami begitu,” paparnya.

Lebih dari sekadar ritual keagamaan, festival ini juga membawa pesan kuat tentang kebersamaan. Masyarakat diajak memaknai perbedaan sebagai kekayaan yang menciptakan harmoni.

"Perbedaan itu ibarat taman yang dipenuhi bunga berwarna-warni, justru membuat kehidupan menjadi harmonis," tambahnya.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X