Beban kerja yang tinggi hingga teguran bertubi-tubi menjadi alasannya untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai ahli gizi MBG.
Baca Juga: Isu Dapur Fiktif di Balik Anggaran MBG Rp99 Triliun, Menkeu Purbaya Tegaskan Evaluasi
Selain itu, ia juga membenarkan rumor bahwa gaji pekerja MBG dibayar secara akumulasi atau 'rapel'.
Ia juga menceritakan bahwa setiap harinya, dapur MBG memasak hingga 3500 porsi sehingga waktu memasak mereka dimulai dari jam 9 malam.
"Iya jam 9 malam (mulai masak), jam 2 itu mulai diporsikan ke dalam ompreng. Karena masak 3500 porsi butuh waktu yang lama," jelasnya.
Baca Juga: 16 Siswa di Jember Dilarikan ke Puskesmas, Dugaan Keracunan Makanan MBG
Menurutnya, program MBG ini perlu diadakan evaluasi, mengingat maraknya kasus keracunan yang kerap terjadi.
"Program perlu evaluasi besar-besaran, penerima manfaat untuk satu dapur itu terlalu banyak sehingga proses pendistribusiannya jadi gak maksimal,"
"Makanan diterima dalam keadaan dingin karena sudah lebih dari 2 jam dimasak, akhirnya bakteri mudah masuk. Terlebih tidak ada pemanas di mobil pengantaran, sehingga memungkinkan terjadinya keracunan," pungkasnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
16 Siswa dan 1 Guru di Kalimantan Barat Keracunan Hidangan MBG Setelah Menyantap Menu Hiu Fillet Saus Tomat
Dokter Tan Shot Yen Bongkar Masalah MBG: Menu Ultra Processed Food hingga Edukasi yang Diabaikan
Program MBG Dianggap Gagal, Dokter Tan Shot Yen: Ahli Gizi Baru Lulus dan Tak Tahu HACCP!
Program MBG Diwarnai Kasus Keracunan, Petingginya Bukan dari Latar Belakang Gizi Penuh Purnawirawan Hingga Ahli Serangga
Respon Enteng Zulhas Soal Keracunan MBG, Sebut Hanya Karena Belum Terbiasa: Dulu Saya Minum Susu ya Mencret