Kamis, 4 Juni 2026

Dokter Tan Shot Yen Bongkar Masalah MBG: Menu Ultra Processed Food hingga Edukasi yang Diabaikan

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Kamis, 25 September 2025 | 22:00 WIB
Ilustrasi menu MBG. (info.gptn.or.id)
Ilustrasi menu MBG. (info.gptn.or.id)

SketsaNusantara.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah kembali jadi sorotan publik.

Kali ini, kritik tajam datang dari dr Tan Shot Yen saat menghadiri rapat dengar pendapat bersama Komisi XI DPR RI pada Senin, 22 September 2025.

Dalam forum tersebut, Tan mengungkap sederet kelemahan pelaksanaan MBG. Mulai dari menu yang dibagikan ke siswa, tenaga ahli yang belum berpengalaman, hingga lemahnya pengawasan.

Baca Juga: 16 Siswa dan 1 Guru di Kalimantan Barat Keracunan Hidangan MBG Setelah Menyantap Menu Hiu Fillet Saus Tomat

Kritik yang dilontarkan dengan gaya lugas ini langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Tan menyebut ada empat hal mendasar yang perlu segera direformasi. Pertama, menghentikan distribusi makanan kering yang berasal dari produk ultra-processed food (UPF).

Ia menilai makanan jenis ini tidak sejalan dengan misi gizi sehat untuk anak-anak.

Baca Juga: Pangan Lokal Terpinggirkan, Dokter Tan Shot Yen Kritik Keras Menu MBG yang Sajikan Makanan UPF

Kedua, penghentian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dianggap potensial bermasalah. Lebih jauh, ia menegaskan SPPG yang sudah terbukti bermasalah justru harus segera ditutup. Menurut Tan, banyak tenaga ahli gizi di SPPG masih sangat minim pengalaman.

“Teman-teman kami yang lebih senior datang ke SPPG, ya Allah, ahli gizinya baru lulus dan lebih lucu lagi mereka kalau ditanya nggak ngerti,” kata dr Tan Shot Yen di Parlemen.

Ia menambahkan, kualitas penyajian gizi kerap tidak seimbang meski perhitungan kalori terlihat mencukupi.

“Memang jam terbangnya masih kurang, jadi kenapa Anda lihat yang biasa ditampilkan SPPG itu itung-itungan kalori, kalorinya cukup tapi tapi kualitasnya ya anak sekarang ngomongnya ngehe,” paparnya.

Reformasi keempat yang ia sampaikan terkait sistem monitoring. Menurutnya, pengawasan pelaksanaan MBG masih sangat longgar dan perlu sistem evaluasi yang lebih akuntabel.

Selain kritik, Tan juga memberikan beberapa rekomendasi untuk perbaikan MBG. Ia menekankan agar pelaksanaan program tidak melulu bergantung pada SPPG. Di wilayah 3T, menurutnya, sulit membangun dapur SPPG dengan anggaran miliaran. Solusi yang lebih realistis adalah membina kantin sekolah yang sudah ada.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X