Minggu, 19 Juli 2026

Dari Toyama ke Kalijompo: Inilah Kisah Residensi di Jantung Perkebunan Jember Dari Lensa Sari Shibata

Photo Author
Qorry 'Aina Damayanti, Sketsa Nusantara
- Minggu, 7 September 2025 | 06:00 WIB
Sari Shibata, senam Jepang yang mengikuti program Residensi 10 Lanbau yang diselenggarakan Sudut Kalisat (Sketsa Nusantara.id/ Qorry 'Aina Damayanti)
Sari Shibata, senam Jepang yang mengikuti program Residensi 10 Lanbau yang diselenggarakan Sudut Kalisat (Sketsa Nusantara.id/ Qorry 'Aina Damayanti)

SketsaNusantara.id - Kolektif Sudut Kalisat mengadakan program residensi 10 perkebunan atau lanbau yang tersebar di Kabupaten Jember.

Kabupaten Jember yang terbentuk dari perkebunan kopi, karet, tembakau, dan kakao telah meninggalkan jejak kuat dalam konfigurasi ruang, batas-batas sosial, hingga insfrastruktur yang membentuk wajah Jember hari ini.

Program residensi yang dimulai tanggal 22 Agustus hingga 4 September 2025 ini diikuti oleh 20 seniman dari dalam maupun luar negeri.

Baca Juga: Prosesi Restu Ibu: Merawat Ingatan Kolektif bersama Sudut Kalisat Melalui Festival Kampung Lorstkal

Salah satunya diikuti oleh Sari Shibata, seniman asal Jepang yang sudah mengikuti pameran Kalisat Tempo Dulu di tahun 2023. Selama dua pekan, Sari Shibata berada di Perkebunan Kalijompo. Membidik kehidupan di perkebunan dengan lensa kameranya.

Lahir dan besar di sebuah desa pegunungan di Prefektur Toyama, Jepang, Sari kini menetap di kota bersama suaminya dan bekerja di bidang IT. Ia adalah lulusan Psikologi Kontemporer dari Universitas Rikkyo, namun dalam beberapa tahun terakhir memilih menekuni fotografi sebagai medium utama untuk berekspresi.

“Awalnya dari pameran di Kalisat Tempo Dulu 8. Waktu itu pengalamannya sangat berkesan, jadi saya ingin sekali kembali,"

Baca Juga: Sudut Kalisat Hidupkan Sejarah Lewat Festival Kampung Lorstkal: Menyulam Sejarah, Merayakan Peran Ibu

"Karena saya berasal dari desa, setelah lama hidup di kota saya semakin tertarik dengan kehidupan pedesaan. Bisa ikut proyek tentang desa di luar negeri terasa sebagai kesempatan yang luar biasa,” katanya, saat ditemui di Kaijompo.

Selama di Kalijompo, Sari Shibata menjalani kehidupan layaknya warga lokal. Setiap hari ia berjalan kaki menyusuri kebun, memotret aktivitas masyarakat, membuat sketsa, dan berinteraksi dengan warga.

Awalnya ia mengaku khawatir jika kegiatan memotretnya akan mengganggu aktivitas yang ada di sana.

Baca Juga: Mampir di Jember! Festival Film Santri Gelar Nobar dan Sosialisasi Bareng Para Santri di Sinema Kelontong Sudut Kalisat

"Tapi ternyata orang-orang di sini ramah sekali, dan sebagian besar justru senang difoto,"

Sehari-hari, Sari berkomunikasi dengan warga menggunakan bantuan. Meski menjadi salah satu tantangan tersendiri, namun itu justru menjadi salah satu kesenangan baginya.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X