“Dan makin bikin enek, lo lebih berani ngegas ke rakyat ketimbang nyikat bandar. Rakyat ngekritik, lo ancam mau tangkep. Rakyat bikin konten marah, lo labelin ‘provokatif’. Eh, tapi giliran bandar judol yang merusak generasi, lo malah kucing-kucingan. Jangan-jangan bener kata orang, ada beking gede di belakang semua ini. Kalo gak ada beking, mana mungkin situs-situs judol bisa tetep hidup meski katanya udah ‘dibersihin’?” pungkasnya.
Tak hanya soal judol, Balqis juga mengingatkan bahwa demokrasi rusak bukan karena konten viral atau aksi demonstrasi rakyat, melainkan karena runtuhnya kepercayaan publik pada institusi negara.
“Lo sadar gak sih, demokrasi tuh rusak bukan gara-gara orang demo, bukan gara-gara konten viral. Demokrasi rusak karena rakyat udah gak percaya sama institusi negara. Demokrasi rusak karena rakyat miskin diperas terus, sementara pejabatnya santai-santai. Demokrasi rusak karena ada lembaga kayak lo yang sibuk nyari kambing hitam ketimbang beresin borok sendiri,” tegas Balqis.
Balqis menutup kritikannya dengan perumpamaan yang menohok. Menurutnya, Komdigi ibarat rumah dengan banyak kerusakan, namun bukan memperbaiki, justru menyalahkan pihak yang menyoroti kebocorannya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Jangan Salah Paham, Gratis Ongkir Masih Aman! Komdigi Jelaskan Aturan Baru Diskon Ongkos Kirim
Gratis Ongkir Dibatasi? 7 Poin Peraturan Menteri Komdigi tentang Layanan Pos Komersil yang Dikeluarkan Meutya Hafid
Ramai Berita Pembatasan Promo Gratis Ongkir yang Hanya 3 Hari, Komdigi Berikan Pernyataan ini
Komdigi Keluarkan Peringatan kepada PSE Lingkup Privat untuk Segera Lakukan Pendaftaran Maupun Pembaharuan Data