"Di sini (Kalisat), setiap ada yang mau merantau pasti meminta restu ibu. Ada yang disuapi, dilangkahi tiga kali, ada juga yang dibawain potongan rambut ibunya, semacam jadi jimat," terangnya.
Festival ini, kata Hakim, sebagai bentuk penghormatan kepada figur Ibu, baik secara simbolik maupun harfiah, sebagai penjaga nilai, pelindung kehidupan, dan fondasi identitas sosial budaya.
"Dalam konteks lokal Kampung Lorstkal, sosok Ibu bukan hanya sebagai pribadi, tetapi juga sebagai representasi komunitas yang menjaga kesinambungan budaya, memori kolektif, dan relasi sosial,"
Sherin Fardarisa, salah satu mahasiswa Universitas Jember merasa bahwa melalui festival ini, ia dapat melihat sisi lain dari makna Restu Ibu.
"Lewat festival ini, aku jadi belajar betapa khidmat dan bermaknanya restu dari orang tua. Bagi perantau sepertiku, Sudut Kalisat berhasil menampilkan kultur perantauan yang tidak terbatas pada ucapan 'hati-hati di jalan,' tapi bagaimana perantauan menjadi titik balik dinamika yang terjadi di dalam keluarga," ungkap Sherin.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Detik-Detik Pengukuhan Paskibraka Nasional 2025 di Istana Negara Jelang Upacara HUT ke-80 RI
Kecelakaan Maut Truk VS Tossa di Jalur Lintas Selatan Jember, 4 Orang Meninggal Dunia
Gelar Malam Tirakatan 17 Agustus, Warga Mojosongo Jombang Nyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Baca Tahlil
Daftar 76 Nama Paskibraka Nasional 2025 dari 38 Provinsi di Indonesia, Siapa Pembawa Baki Bendera Pusaka?
Siapa Pembawa Baki 2025? Profil Bianca Alessia, Paskibraka Sulawesi Utara yang Bertugas Bawa Bendera Merah Putih di Istana Merdeka
Buka Penerbangan ke Jakarta di Bandara Notohadinegoro, Bupati Gus Fawait: Ini Momentum untuk Kenalkan Wisata Jember