Untuk mencegah konflik serupa terus terjadi, Bahlil menyarankan agar negara mengevaluasi sistem demokrasi saat ini. Ia menyebut bahwa demokrasi seharusnya menjadi instrumen, bukan tujuan akhir dalam bernegara.
“Dalam berbagai hal saya katakan bahwa demokrasi itu bukan tujuan negara, instrumen dalam pencapaian tujuan negara, kita cari instrumen yang baik, yang mendekatkan pada budaya ketimuran,” jelasnya.
Ia pun mengajak semua pihak untuk bersama-sama mengevaluasi sistem politik yang ada, demi mencapai suasana demokrasi yang lebih kondusif dan sesuai dengan karakter bangsa.
“Saya pikir sudah harus kita introspeksi bersama mencari yang terbaik,” pungkasnya.
Hingga kini, wacana pilkada tidak langsung masih menjadi perdebatan di ruang publik. Sejumlah pihak menyambut positif, sementara lainnya menilai hal ini dapat mengurangi peran masyarakat dalam proses demokrasi.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Polemik Tambang Nikel Raja Ampat, Susi Pudjiastuti Heran dengan Pernyataan Bahlil Lahadalia soal ini
Kunjungi Pulau Gag, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Minta Masyarakat Menilai Secara Objektif dan Akan Lakukan Evaluasi Menyeluruh
Bukan Era Bahlil Lahadalia, Sosok ini Menjabat sebagai Menteri ESDM saat Dibukanya Gerbang Perizinan Pertambangan Nikel di Raja Ampat
4 Komisaris PT Gag Pemilik Izin Tambang Nikel di Raja Ampat, Ada Ulama Beristri Dua, Pensiunan Jenderal hingga Anak Buah Bahlil Lahadalia
Profil 4 Komisaris PT Gag Nikel Pemilik Izin Tambang di Raja Ampat, Ada Ulama NU, Anak Buah Bahlil Lahadalia hingga Pensiunan TNI