SketsaNusantara.id – Suasana khidmat menyelimuti Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, hari ini Minggu 27 Juli 2025.
Seluruh jajaran pengurus, kader, hingga simpatisan partai berlambang banteng moncong putih tersebut berkumpul untuk memperingati 29 tahun Tragedi 27 Juli 1996 atau yang dikenal dengan sebutan Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli).
Peringatan Kudatuli 2025 kali ini mengambil tema 'Mengenang Tragedi, Menjaga Demokrasi'.
Lalu apa sebetulnya peristiwa Kudatuli dan kapan terjadinya? Ini uraiannya dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube tvOneNews berikut uraiannya.
Kudatuli rupanya merupakan reringatan yang bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum penting untuk mengenang salah satu episode kelam dalam sejarah demokrasi Indonesia.
Tragedi Kudatuli merupakan kependekan dari Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli, dimana peristiwa ini merupakan peristiwa penyerbuan Kantor DPP PDI oleh massa yang diduga diorganisir, bertujuan mengambil alih kepemimpinan PDI dari tangan Megawati Soekarnoputri.
Penyerbuan kantor PDIP kala itu disebut bukanlah sekedar serangan terhadap bangunan fisik akan tetapi serangan terhadap peradaban demokrasi, serangan terhadap sistem hukum, dan serangan terhadap kemanusiaan.
Insiden ini menelan korban 5 orang tewas, 149 orang mengalami cedera, dan 23 orang dinyatakan hilang.
Selain korban jiwa, peristiwa ini disebut telah merugikan PDIP pihak kubu Megawati secara materiil, serta peristiwa ini disebut menjadi penanda represifnya kekuasaan Orde Baru terhadap gerakan pro-demokrasi.
Pada 27 Juli 1996, kantor DPP PDI yang saat itu menjadi markas pendukung Megawati Soekarnoputri diserbu oleh kelompok yang menamakan diri pendukung Suryadi, ketua umum PDI versi Kongres Medan yang didukung pemerintah Orde Baru.
Penyerbuan ini berujung pada kerusuhan massal di Jakarta yang berlangsung hingga beberapa hari dan peristiwa ini secara luas diyakini sebagai intervensi politik Orde Baru untuk menjegal popularitas Megawati yang semakin menguat.
Artikel Terkait
Dilarang Ikut Retreat di Magelang, 2 'Pembelot' PDIP Ini Tetap Berangkat, Ternyata Alasannya...
Dukung Naturalisasi, Fraksi PDIP Tetap Berikan Catatan Keras Terkait Pemain Lokal Agar Jadi Fokus Utama PSSI
Mulai Muak! Dituding Kirim 'Utusan' Minta Tak Dipecat dari PDIP, Jokowi: Saya Selalu Diam, Ngalah Terus tapi Ada Batasnya
Setuju Revisi UU TNI, Aktivis Dandhy Laksono Sindir PKS dan PDIP: Partai yang Besar karena Reformasi 98 Tapi...
Ternyata Pernah Jadi Caleg PDIP, Inilah Rekam Jejak Sekar Arum Bidara Pemeran Film Kolosal Angling Dharma Atas Kasus Uang Palsu