SketsaNusantara.id – Penjelasan soal kebijakan ekonomi, apalagi perpajakan internasional, umumnya bikin dahi berkerut.
Tapi seorang konten kreator bernama @sandissukron berhasil memecah rumitnya topik itu lewat bahasa yang sangat sederhana, bahkan disebutnya sendiri sebagai “bahasa bayi.”
Dalam video berdurasi 1 menit 16 detik, ia menjelaskan kebijakan tarif impor era Presiden Donald Trump menggunakan analogi antara Indonesia dan Amerika yang saling kirim kacang dan ciki.
Baca Juga: Amplop Kondangan Pernikahan Juga Akan Kena Pajak? Ini Jawaban Direktorat Jenderal Pajak
Video tersebut bukan hanya menghibur, tapi juga membuka wawasan penontonnya soal bagaimana perdagangan global dan perjanjian dagang bekerja.
“Misalnya dia ini Indonesia yang hidupnya masih struggling, tapi punya banyak sumber daya kacang,” ujar Sandi sebagaimana dikutip SketsaNusantara.id dari akun Instagramnya @sandissukron.
Ia melanjutkan cerita bahwa si “Indonesia” harus membayar Rp10.000 untuk setiap pengiriman kacang ke Amerika.
Namun karena warga Amerika suka kacang Indonesia, mereka pun bikin kesepakatan, yakni cukup bayar Rp2.000, asalkan Indonesia membeli produk-produk tertentu dari Amerika seperti pesawat, energi, sampai alat pertanian.
Kesan yang ditangkap dari video ini bukan hanya soal perdagangan dua negara, tetapi juga ketimpangan dalam kesepakatan dagang, di mana negara berkembang sering harus mengikuti syarat yang menguntungkan negara maju.
Unggahan ini langsung dibanjiri komentar netizen yang mengaku tercerahkan. Mereka memuji cara penyampaian yang ringan, menghibur, dan mudah dimengerti.
Baca Juga: Tarif Impor 32 Persen dari Amerika Serikat Ditunda, Airlangga Ungkap Kesepakatan dan Fakta Perundingan
“Gatau ya happy bgt bgt bgt liat konten abang yg pake bahasa bayi, sesuai sama sdm negara ini," tulis komentar @cutiiiemood.
“Salut nih anak muda yg peduli dan kritis... Keren lu dek," komentar dari @aan.hafram yang memuji konten video tersebut.
“Respect dg anak muda yg kritis seperti ini,” tulis juga @gsn_wahyuni.
Seperti yang diketahui, pada 15 Juli 2025 lalu, Presiden Indonesia Prabowo Subianto melakukan negoisasi terkait tarif impor-ekspor dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Beberapa hal yang disepakati yakni barang impor dari Indonesia yang masuk ke Amerika Serikat dikenai bea masuk sebesar 19% yang awalnya 32%.
Sebagai timbal baliknya, Donald Trump meminta Prabowo untuk membebaskan bea masuk atas seluruh barang ekspor dari Amerika.
Begitu juga dengan hambatan-hamabtan nontarif yang diminta untuk dihapuskan.
Tak hanya itu, kesepakatan lainnya juga menyebutkan Indonesia berkomitmen mengimpor produk energi dan agrikulturan dari Negeri Paman Sam tersebut.
Ditambah, Indonesia harus membeli 50 unit pesawat Boeing dari Amerika Serikat.***
Artikel Terkait
Disebut Bisa Ancam Hubungan Geopolitik 3 Negara, Pengamat Hukum Politik Menjawab Apakah Satria Arta Kumbara Bisa Kembali ke Indonesia?
Cek Merek Berasmu, Update Resmi 5 Merek Beras Premium dari 3 Produsen yang Dinyatakan Tak Sesuai Standar Mutu Hingga Terkena Sangsi Pidana
Istri Arya Daru dan Penjaga Kost Terlibat Atau Tidak? Ini 5 Terawangan Denny Darko Pada Kasus Terbunuhnya Diplomat Muda
Beri Kenyamanan Pengguna Jalan, Satpol PP Jember Tertibkan Pengemis di Sekitar Lampu Merah Perkotaan
Tak Ingin Munculkan Masalah Baru, GP Ansor dan JSSC Jember Ingin Duduk Bareng Bahas Fatwa Haram Sound Horeg
Prabowo Subianto Hadir di Harlah ke-27 PKB, Merasa Nyaman di Tengah PKB dan NU dan Akui Kedekatan dengan Sosok Gus Dur