SketsaNusantara.id – Di balik benang tenun, ladang sorgum, dan ingatan-ingatan lama yang diwariskan leluhur, tersimpan kisah perjuangan perempuan di pulau-pulau kecil Indonesia Timur yang begitu kuat dan menggugah.
Kisah-kisah itu kini hadir dalam pameran virtual bertajuk “Ketika Perempuan Bertemu Pulau, Tenun, dan Sorgum”, yang digelar Mama Aleta Fund (MAF) untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025.
Pameran ini bukan sekadar tampilan visual. Ia adalah rangkuman narasi tentang tubuh perempuan dan tubuh alam yang saling terluka dan saling menguatkan di tengah krisis iklim.
Baca Juga: Museum Date Seru di Museum MACAN: 3 Pameran Menarik untuk Long Weekend Akhir Mei!
Bertempat secara daring di situs resmi Mama Aleta, pengunjung dapat menyelami kisah-kisah dari Timor, Flores, Adonara, hingga Lembata. Semua disajikan lewat tiga seri cerita foto hasil dokumentasi jurnalis visual kawakan, Albertus Vembrianto.
Vembrianto, yang sebelumnya dikenal lewat liputan mendalam tentang Papua dan pernah meraih penghargaan Permata Photojournalist Grant 2018 serta terpilih dalam 6x6 Global Talent Program oleh World Press Photo, kembali menunjukkan kemampuannya menangkap yang tak kasat mata tentang perlawanan senyap para perempuan adat.
Dengan sudut pandang yang sensitif, pameran ini memotret bagaimana perempuan menjadi benteng terakhir dalam menjaga ekosistem dan nilai hidup di wilayah-wilayah yang kerap dianggap pinggiran.
Di tengah proyek pembangunan yang mengejar pertumbuhan ekonomi, perempuan-perempuan ini tetap bertahan dengan prinsip hidup sederhana dan berdaulat: menjaga tanah, menenun budaya, dan menanam pangan lokal.
“Mereka memang tak berteriak, tapi suara mereka bergema lewat tangan yang terus menenun, ladang yang terus ditanami, dan kisah yang terus diceritakan,” ujar perwakilan MAF dalam siaran persnya.
Salah satu kutipan yang mencuat dari pameran adalah pernyataan Aleta Baun, aktivis perempuan adat Mollo, “Kami tidak menjual apa yang tidak bisa kami buat.”
Sebuah prinsip ekonomi berkelanjutan yang lahir dari pengalaman, bukan teori. Prinsip ini menjadi pondasi bagaimana perempuan di wilayah tersebut memilih jalan ekonomi alternatif, yang tak merusak tanah air, namun merawatnya.
Tak hanya pameran, MAF juga mengajak publik berpartisipasi lebih jauh melalui Lomba Menulis Ulasan Cerita Foto yang digelar pada 1–10 Juli 2025. Siapapun, dari pelajar hingga jurnalis, bisa menyampaikan pandangannya atas cerita-cerita dalam pameran ini. Lima ulasan terbaik akan dipublikasikan dan mendapatkan buku cerita foto serta merchandise eksklusif.
Artikel Terkait
Mengenang Hilangnya Ludruk Pak Sabar Kalisat, Misteri di Tengah Gejolak Peristiwa Kelam pada Tahun 1965
Dorong Partisipasi Aktif Suarakan Hak Kelompok Rentan, Lembaga GPP Jember Gelar Pameran Karya Kreatif di Festival Jurnalis Warga
Kalisat Tempo Dulu 9 Dara Memeta Kota, Sebuah Upaya Melihat Perjalanan Peradaban Kota Jember dari Perspektif yang Berbeda
Pameran Tunggal Pelukis Yos Suprapto di Galeri Nasional Ditunda, Gara-Gara Lukisan Jokowi? Netizen: Darurat Demokrasi
3 Poin Klarifikasi Galeri Nasional Usai Tunda Pameran Tunggal Yos Suprapto hingga Ungkap Alasan Kurator Mundur
Galeri Nasional Tunda Pameran Tunggal Yos Suprato Gara-Gara Kendala Teknis, Netizen: Selamat Datang Kembali Orba?
Antara Kentongan, Mantra, dan Sayap Merpati: Kisah Budi Prasetyo Menjaga Tradisi Getakan dari Desa Ajung Kalisat
Sudut Kalisat Hidupkan Sejarah Lokal Lewat Merokat Kenangan, Sebuah Upaya Untuk Mengenal dan Mencintai Kampung Halaman