Kamis, 4 Juni 2026

Ketika Perempuan Menenun Perlawanan: Pameran Cerita Foto Mama Aleta Fund Angkat Suara Pulau-Pulau Kecil di Tengah Krisis Iklim

Photo Author
Zuhana Anibuddin Zuhro, Sketsa Nusantara
- Rabu, 25 Juni 2025 | 19:30 WIB
Salah satu foto di pameran Mama Aleta Fund yang menceritakan tentang suasana menenun (Mamaaleta.org)
Salah satu foto di pameran Mama Aleta Fund yang menceritakan tentang suasana menenun (Mamaaleta.org)

SketsaNusantara.id – Di balik benang tenun, ladang sorgum, dan ingatan-ingatan lama yang diwariskan leluhur, tersimpan kisah perjuangan perempuan di pulau-pulau kecil Indonesia Timur yang begitu kuat dan menggugah.

Kisah-kisah itu kini hadir dalam pameran virtual bertajuk “Ketika Perempuan Bertemu Pulau, Tenun, dan Sorgum”, yang digelar Mama Aleta Fund (MAF) untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025.

Pameran ini bukan sekadar tampilan visual. Ia adalah rangkuman narasi tentang tubuh perempuan dan tubuh alam yang saling terluka dan saling menguatkan di tengah krisis iklim.

Baca Juga: Museum Date Seru di Museum MACAN: 3 Pameran Menarik untuk Long Weekend Akhir Mei!

Bertempat secara daring di situs resmi Mama Aleta, pengunjung dapat menyelami kisah-kisah dari Timor, Flores, Adonara, hingga Lembata. Semua disajikan lewat tiga seri cerita foto hasil dokumentasi jurnalis visual kawakan, Albertus Vembrianto.

Vembrianto, yang sebelumnya dikenal lewat liputan mendalam tentang Papua dan pernah meraih penghargaan Permata Photojournalist Grant 2018 serta terpilih dalam 6x6 Global Talent Program oleh World Press Photo, kembali menunjukkan kemampuannya menangkap yang tak kasat mata tentang perlawanan senyap para perempuan adat.

Dengan sudut pandang yang sensitif, pameran ini memotret bagaimana perempuan menjadi benteng terakhir dalam menjaga ekosistem dan nilai hidup di wilayah-wilayah yang kerap dianggap pinggiran.

Baca Juga: Marak Selebrasi Ruang Temu Kopi Kelas Atas, Kolektif Kulon Project Kritisi Keberadaan Kopi Tradisional Bondowoso Lewat Pameran Kobessah

Di tengah proyek pembangunan yang mengejar pertumbuhan ekonomi, perempuan-perempuan ini tetap bertahan dengan prinsip hidup sederhana dan berdaulat: menjaga tanah, menenun budaya, dan menanam pangan lokal.

“Mereka memang tak berteriak, tapi suara mereka bergema lewat tangan yang terus menenun, ladang yang terus ditanami, dan kisah yang terus diceritakan,” ujar perwakilan MAF dalam siaran persnya.

Salah satu kutipan yang mencuat dari pameran adalah pernyataan Aleta Baun, aktivis perempuan adat Mollo, “Kami tidak menjual apa yang tidak bisa kami buat.”

Baca Juga: Pembredelan Pameran Lukisan Yos Suprapto, Deddy Sitorus Indikasikan Ada Pihak yang Tersinggung: Kayak Orde Baru Aja

Sebuah prinsip ekonomi berkelanjutan yang lahir dari pengalaman, bukan teori. Prinsip ini menjadi pondasi bagaimana perempuan di wilayah tersebut memilih jalan ekonomi alternatif, yang tak merusak tanah air, namun merawatnya.

Tak hanya pameran, MAF juga mengajak publik berpartisipasi lebih jauh melalui Lomba Menulis Ulasan Cerita Foto yang digelar pada 1–10 Juli 2025. Siapapun, dari pelajar hingga jurnalis, bisa menyampaikan pandangannya atas cerita-cerita dalam pameran ini. Lima ulasan terbaik akan dipublikasikan dan mendapatkan buku cerita foto serta merchandise eksklusif.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X