Tak ingin bernasib sama dengan Palestina, Iran bangkit dan membalas dengan operasi True Promise III. Beberapa jam kemudian, Iran meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke target militer di Israel, termasuk kompleks Kirya di Tel Aviv.
Konflik terus meningkat. Pada tanggal 14-17 Juni 2025, Israel melancarkan serangan tambahan ke infrastruktur energi Iran, seperti ladang gas South Pars dan bandara Mashhad, sementara Iran menyerang kota-kota besar Israel.
Korban di kedua pihak terus bertambah. Dilaporkan 224 tewas di Iran dan lebih dari 1.200 luka-luka, sementara Israel melaporkan 24 orang warganya tewas dan 592 lainnya terluka.
Ketegangan mencapai puncak ketika Amerika Serikat (AS) ikut turun tangan. Presiden AS, Donald Trump mengumumkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir Iran yakni Fordow, Natanz, dan Isfahan dengan menggunakan bom "bunker buster".
Dalam pernyataannya di X, Trump mengklaim serangan ini menghancurkan kapasitas nuklir Iran. Ia juga menyerukan perdamaian atau Iran akan menghadapi serangan lebih besar jika terus menyerang Israel.
Baca Juga: Turis Asing Ramai-Ramai Kabur dari Israel, Peringatan Iran: Rezim Zionis akan Membayar Kejahatannya!
"Kami telah meluncurkan serangan yang sangat sukses di 3 situs nuklir Iran. Selamat untuk tentara-tentara hebat Amerika," tulis Trump dalam cuitannya di akun X @realDOnaldTrump yang diunggah hari Minggu, 22 Juni 2025.
"Selama ini belum ada pasukan militer di dunia yang mampu melakukan serangan ini. Sekarang saatnya untuk perdamaian," pungkasnya.
2. Iran Klaim Tak Ada Kebocoran Radiasi Akibat Serangan AS
Namun, klaim Trump terhadap serangan yang terbilang "paling sukses" merusak 3 pusat nuklir di Fordow mendapat bantahan dari Iran.
Pemerintah Iran, melalui kantor berita IRNA, menyatakan bahwa serangan AS tidak menyebabkan kerusakan signifikan pada fasilitas nuklir mereka, terutama Fordow yang terletak jauh di bawah gunung.
Baca Juga: Perundingan Nuklir Iran-AS Dibatalkan Pasca Konflik Iran-Israel yang Kian Memanas
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga melaporkan bahwa tingkat radiasi di sekitar Natanz dan Isfahan tetap normal, meredakan kekhawatiran awal dunia akan kebocoran radiasi.
Meski demikian, direktur IAEA, Rafael Grossi, memperingatkan bahwa eskalasi militer meningkatkan risiko bencana radiologi.
Artikel Terkait
Misi Damai Dicegat: Kronologi Aktivis Internasional yang Berlayar bersama Madleen Diculik Israel saat Bawa Bantuan ke Gaza
Zionis Israel Menyerang Iran, Ini 7 Langkah Penting dari KBRI Tehran untuk WNI Hindari Ancaman Konflik
Iran Hantam Zionis Israel dengan Rudal: Ini 5 Fakta Penting yang Bikin Dunia Ketar-ketir
Zionis Israel Bombardir Iran, Tapi Gaza Terus Menjadi Ladang Kematian: Lebih dari 274 Tewas, Ribuan Luka-Luka
Dedengkot Zionis Israel Akhirnya Keluar dari Bungker Persembunyian, Netanyahu Kunjungi Kota Rusak dan Ancam Iran di Depan Publik
7 Fakta Masoud Pezeshkian Presiden Iran yang Undang Prabowo di Tengah Gempuran Israel: Dokter Jantung Anti Amerika Serikat yang Pernah Ikut Perang