Banyak yang menilai sikap Komdigi ini sebagai anti-kritik. Beragam tanggapan marah membanjiri kolom komentar maupun quote retweet cuitan tersebut.
“Mengapa diminta take-down? kan di video tersebut jelas ada logo KOMPAS. Harusnya Komdigi minta Kompas yang takedown. Juga apa hubungan Komdigi dengan kerusuhan Mei 1998? Apakah komdigi menjadi kaki tangan perusuh? Harusnya Komdigi berterima kasih kan sudah bantu disebarkan agar semua mata melihat,” ujar akun @fsaidhamzah.
“Lho komdigi kok bukannya ngurusin web judol, malah membungkam fakta dan sejarah ya, kenapa begitu?” tulis akun @garisgemilang.
“Menterinya mantan Jurnalis lho, dan mungkin masih memegang kartu anggota pers,” sindir akun @arifin34533.
Jika benar Komdigi memang meminta X untuk menghapus cuitan atau akun-akun yang menyebarkan sejarah 1998, tindakan ini tidak meredakan murka publik sama sekali.
Justru dengan adanya pembungkaman massal seperti ini, kepercayaan masyarakat yang sudah sangat tipis akan menghilang sama sekali.
Hal ini patut jadi refleksi bagaimana masyarakat Indonesia khawatir akan kebebasan pers dan media di negeri yang semakin dibatasi. ***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Apa itu Worldcoin? Layanan Digital yang Banyak Dibicarakan hingga Izinnya Dibekukan Komdigi
Tukang Belanja Online Dengerin! Komdigi Batasi Kebijakan Gratis Ongkir, Begini Ketentuannya...
Jangan Salah Paham, Gratis Ongkir Masih Aman! Komdigi Jelaskan Aturan Baru Diskon Ongkos Kirim
Geger Grup 'Fantasi Sedarah' di Facebook, Komdigi Temukan 30 Link Serupa dan Minta Meta Segera Take-down
Gratis Ongkir Dibatasi? 7 Poin Peraturan Menteri Komdigi tentang Layanan Pos Komersil yang Dikeluarkan Meutya Hafid