Kamis, 4 Juni 2026

Apa Dosa Kami Dilahirkan Sebagai Papua? Inilah Surat Pedih Antonia untuk Presiden Setelah Ibunya Ditembak dan Dikubur Tanpa Upacara

Photo Author
Qorry 'Aina Damayanti, Sketsa Nusantara
- Minggu, 25 Mei 2025 | 20:29 WIB
Antonia Hilaria Wandagau, seorang anak Papua, akhirnya menuliskan surat pada presiden terkait kasus yang menimpa Ibunya (Instagram.com/@talenggeng1992)
Antonia Hilaria Wandagau, seorang anak Papua, akhirnya menuliskan surat pada presiden terkait kasus yang menimpa Ibunya (Instagram.com/@talenggeng1992)

"Ia dikubur tanpa upacara, tanpa upaya hukum, tanpa satu pun air mata dari negara yang katanya milik semua rakyat," tulisnya.

Antonio pun menanyakan makna nasionalisme yang sesungguhnya, setelah bertubi-tubi kejadian kekerasan militer yang menimpa warga sipil Papua, yang seakan hanya menjadi angka statistik saja.

Baca Juga: Pasca RUU TNI Disahkan, Beredar Surat Resmi Kodim Merauke Meminta Data Mahasiswa Papua, Dandhy Laksono Soroti Dasar Hukumnya

"Bapak Presiden, apakah ini arti nasionalisme di mata negara: membunuh warganya sendiri lalu memanggilnya stabilitas? Apakah luka yang menganga di Nduga, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Dogiyai, Mimika, Maybrat dan daerah lainnya di Tanah Papua hanyalah angka dalam laporan militer?,"

"Kami bukan statistik, Pak. Kami anak-anak manusia yang masih bertanya: apa dosa kami dilahirkan sebagai Papua?," tanyanya.

Antonia menegaskan bahwa suratnya ini tidak hanya ditujukan untuk sang ibu yang menjadi korban keganasan aparat, melainkan juga untuk ribuan korban-korban lain yang terjadi sebelumnya.

"Di tanah kami, sekolah berubah menjadi barak, guru digantikan senapan, dan suara tangis anak-anak menjadi latar belakang setiap operasi. Kami butuh guru dan nakes, bukan pasukan tempur. Kami ingin hidup, bukan dibungkam," tegasnya.

Dalam suratnya, Antonio juga menyinggung perihal peran presiden yang menawarkan diri sebagai mediator konflik antara Rusia dan Ukraina, namun tak melakukan hal yang sama pada rakyatnya sendiri di Papua.

"Mengapa negara lebih peduli pada pengungsi asing daripada kami, pengungsi di tanah sendiri?," ucapnya.

Anak Hetina Mirip ini heran dengan fenomena para aparat yang justru menerima penghargaan setelah menembak dan membakar kampung-kampung di Papua.

"Apakah impunitas kini bagian dari budaya resmi negara? Apakah keadilan hanya milik mereka yang berseragam dan berkantor di ibukota?," 

Diakui Antonio bahwa selama ia hidup dan menjadi warga Papua, ia rakyat Papua yang lain tak pernah terbebas dari bayang-bayang kebrutalan operasi militer.

80 tahun Indonesia merdeka, namun mereka tak pernah merasakan makna Kemerdekaan itu sesungguhnya.

"Bapa Presiden, apa arti Indonesia jika tidak ada tempat untuk Papua di dalamnya, selain sebagai target tembak? Apa arti kemerdekaan jika kami masih hidup dalam bayang-bayang penyisiran, pengejaran dan stigma? Di mana itu Pancasila, ketika sila kemanusiaan justru dikubur bersama mayat ibu saya?,"

Antonio juga menegaskan bahwa suratnya ini bukanlah sebagai bentuk balas dendam atas meninggalnya sang ibu dengan sangat tidak wajar. Namun ia berharap melalui tulisannya ini dapat membuka nurani sang presiden.

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Sumber: Instagram @papuansspeak

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X