"Ia dikubur tanpa upacara, tanpa upaya hukum, tanpa satu pun air mata dari negara yang katanya milik semua rakyat," tulisnya.
Antonio pun menanyakan makna nasionalisme yang sesungguhnya, setelah bertubi-tubi kejadian kekerasan militer yang menimpa warga sipil Papua, yang seakan hanya menjadi angka statistik saja.
"Bapak Presiden, apakah ini arti nasionalisme di mata negara: membunuh warganya sendiri lalu memanggilnya stabilitas? Apakah luka yang menganga di Nduga, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Dogiyai, Mimika, Maybrat dan daerah lainnya di Tanah Papua hanyalah angka dalam laporan militer?,"
"Kami bukan statistik, Pak. Kami anak-anak manusia yang masih bertanya: apa dosa kami dilahirkan sebagai Papua?," tanyanya.
Antonia menegaskan bahwa suratnya ini tidak hanya ditujukan untuk sang ibu yang menjadi korban keganasan aparat, melainkan juga untuk ribuan korban-korban lain yang terjadi sebelumnya.
"Di tanah kami, sekolah berubah menjadi barak, guru digantikan senapan, dan suara tangis anak-anak menjadi latar belakang setiap operasi. Kami butuh guru dan nakes, bukan pasukan tempur. Kami ingin hidup, bukan dibungkam," tegasnya.
Dalam suratnya, Antonio juga menyinggung perihal peran presiden yang menawarkan diri sebagai mediator konflik antara Rusia dan Ukraina, namun tak melakukan hal yang sama pada rakyatnya sendiri di Papua.
"Mengapa negara lebih peduli pada pengungsi asing daripada kami, pengungsi di tanah sendiri?," ucapnya.
Anak Hetina Mirip ini heran dengan fenomena para aparat yang justru menerima penghargaan setelah menembak dan membakar kampung-kampung di Papua.
"Apakah impunitas kini bagian dari budaya resmi negara? Apakah keadilan hanya milik mereka yang berseragam dan berkantor di ibukota?,"
Diakui Antonio bahwa selama ia hidup dan menjadi warga Papua, ia rakyat Papua yang lain tak pernah terbebas dari bayang-bayang kebrutalan operasi militer.
80 tahun Indonesia merdeka, namun mereka tak pernah merasakan makna Kemerdekaan itu sesungguhnya.
"Bapa Presiden, apa arti Indonesia jika tidak ada tempat untuk Papua di dalamnya, selain sebagai target tembak? Apa arti kemerdekaan jika kami masih hidup dalam bayang-bayang penyisiran, pengejaran dan stigma? Di mana itu Pancasila, ketika sila kemanusiaan justru dikubur bersama mayat ibu saya?,"
Antonio juga menegaskan bahwa suratnya ini bukanlah sebagai bentuk balas dendam atas meninggalnya sang ibu dengan sangat tidak wajar. Namun ia berharap melalui tulisannya ini dapat membuka nurani sang presiden.
Artikel Terkait
Unggahan Terbaru Fiersa Besari Usai Selamat dari Tragedi Pendakian Puncak Carstensz Papua, Akui Beda Tim dari 2 Korban Jiwa?
Misi Rahasia Lilie Wijayanti dan Elsa Laksono Naik ke Puncak Carstensz di Papua, Ingin Kenang Mendiang Sahabat SMA?
Beda Regu, Begini Ucapan Duka Mendalam dari Fiersa Besari untuk 2 Wanita yang Meninggal Dunia di Carstensz Pyramid Papua, Tegaskan Satu Hal
Nadine Chandrawinata Turut Berduka Pasca 2 Pendaki Meninggal Dunia, Ceritakan Pengalamannya Sempat Nyasar saat Turun dari Puncak Carstensz Papua
BRI Dorong UMKM Papua Global Spices Tembus Pasar Internasional, Ini Rahasianya!
Antisipasi Lonjakan Permintaan Uang Kecil, BNI Tebar ATM Pecahan Rp20.000 di 41 Lokasi Se-Indonesia Mulai dari Lampung hingga Papua