Minggu, 19 Juli 2026

Pandji Pragiwaksono Kritik Deddy Corbuzier soal RUU Polri, Stafsus kok Diam saat Ruang Kreatif Terancam?

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 17 Mei 2025 | 13:30 WIB
Pandji Pragiwaksono yang tidak dukung Marshel Widianto dan salahkan Gerindra (Tangkapan layar YouTube Pandji Pragiwaksono)
Pandji Pragiwaksono yang tidak dukung Marshel Widianto dan salahkan Gerindra (Tangkapan layar YouTube Pandji Pragiwaksono)

SketsaNusantara.id - Pandji Pragiwaksono kembali melontarkan kritik tajam. Kali ini, sasarannya adalah sahabatnya sendiri, Deddy Corbuzier.

Dalam perbincangannya dengan musisi Baskara Putra alias Hindia, Pandji menyentil posisi Deddy sebagai Staf Khusus Menteri Pertahanan.

Kritik itu mencuat dalam konten "Skakmat" yang tayang di kanal Youtube Pandji pada Rabu, 14 Mei 2025, saat keduanya membahas keresahan atas RUU Polri yang dianggap membatasi kebebasan berekspresi di internet.

Baca Juga: Bukan Sekali Dua Kali, Pandji Geram Wajahnya Sering Disalahgunakan AI untuk Iklan Judol: Bekingannya Galactus Nih!

Menurut Pandji, kehadiran sosok seperti Deddy di lingkaran kekuasaan terasa tak ada gunanya jika tidak bersuara terhadap regulasi yang bisa membungkam para konten kreator.

Pandji dan Baskara membahas pasal-pasal dalam RUU Polri yang dinilai memberi kewenangan lebih besar kepada polisi terhadap aktivitas di ruang digital. Baskara melihat, hal itu mengancam kebebasan berpendapat, terutama bagi para seniman dan kreator.

Menurut Baskara, RUU Polri berpotensi mengubah internet menjadi ruang publik yang sepenuhnya berada di bawah yurisdiksi polisi. Ia khawatir video atau konten yang dianggap mengganggu bisa dihapus secara legal, tanpa ruang banding.

Baca Juga: Sindir Siapa? Pandji Pragiwaksono Geram Usai Videonya Diedit Pakai AI untuk Promosikan Situs Judol dan Susah Dihilangkan: Bekingannya 'Galactus'

"Terutama sebagai seniman ya. Gue merasa itu sensor yang berubah bentuk aja," ujar Baskara.

RUU ini, menurutnya, menyimpan risiko besar terhadap kemerdekaan berekspresi, terutama jika tafsir terhadap kritik dikaitkan dengan ancaman terhadap negara.

Pandji pun menanggapi dengan nada kritis, mempertanyakan fungsi pejabat publik seperti Deddy Corbuzier yang dulu begitu lantang menolak RUU Penyiaran, tetapi kini terlihat diam terhadap ancaman baru di ranah digital.

Baca Juga: Pengepungan di Bukit Duri Sukses Besar, Joko Anwar Bakal Bikin Film tentang Koruptor? Pandji: Orang Ngumpul di Bar Bunuh-bunuhin Politikus

Baginya, kehadiran influencer atau figur publik dalam pemerintahan semestinya tidak hanya simbolis. Pandji menilai peran seperti Staf Khusus harusnya digunakan untuk menyuarakan keresahan kreator digital, bukan sekadar mendukung program-program populis yang tidak berkaitan langsung dengan kebebasan berekspresi.

Ia juga menyinggung bahwa Deddy pernah mengajaknya berdiskusi untuk menolak RUU Penyiaran yang saat itu menjadi isu hangat karena berpotensi membatasi konten di media sosial. Kini, ketika ada ancaman serupa lewat RUU Polri, Pandji merasa suara tersebut menghilang.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Youtube Pandji Pragiwaksono

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X