Kamis, 4 Juni 2026

Profil Robert Francis Prevost, Kardinal Asal Amerika Serikat Pertama yang Terpilih Jadi Paus Leo XIV Melalui Proses Konklaf 2025 di Vatikan

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Jumat, 9 Mei 2025 | 07:25 WIB
Potret Roberto Francis Prevost yang terpilih jadi Pemimpin Gereja Katolik sedunia menggantikan Paus Fransiskus usai melewati proses konklaf di Vatikan (Instagram/vaticannews)
Potret Roberto Francis Prevost yang terpilih jadi Pemimpin Gereja Katolik sedunia menggantikan Paus Fransiskus usai melewati proses konklaf di Vatikan (Instagram/vaticannews)

Setelah meraih gelar pada 1984, Prevost menjalani misi di Peru dan mempertahankan tesis doktoralnya tahun 1987.

Prevost diangkat sebagai Direktur Panggilan dan Direktur Misi Provinsi Augustinian "Bunda Penasihat yang Baik" di Olympia Fields, Illinois (AS).

Ia pernah menjabat berbagai posisi penting sebagai Uskup Chiclayo di Peru, hingga akhirnya Paus Fransiskus mengangkatnya sebagai seorang kardinal pada tahun 2023.

Baca Juga: Apa Itu Deklarasi Istiglal Paus Fransiskus dan Nasaruddin Umar, Bagaimana Kelanjutannya Usai Sang Pope Meninggal Dunia?

Robert Prevost juga kerap berpartisipasi dalam perjalanan apostolik terakhir Paus Fransiskus. Selama Paus Fransiskus dirawat di rumah sakit Gemelli, Prevost memimpin doa rosario untuk kesehatan Pope Francis.

Keterpilihan Paus Leo XIV membawa harapan besar. Umat Katolik seluruh dunia berharap ia melanjutkan warisan Paus Fransiskus, yang dikenal karena pendekatan inklusif, cinta damai, dan perhatian terhadap kaum tertindas serta terpinggirkan.

Publik juga mengharapkan Paus Leo XIV mampu menavigasi tantangan global, seperti ketegangan geopolitik, krisis iklim, dan isu-isu sosial seperti keadilan dan inklusivitas.

Baca Juga: Jelang Konklaf Mencari Pengganti Paus Fransiskus, Kardinal Asal Filipina Ini Diterpa Isu Keterlibatan Pelecehan Seksual

Sebagai pemimpin baru, Paus Leo XIV dihadapkan pada tugas berat untuk menyatukan Gereja Katolik di tengah dunia yang kian dinamis, termasuk isu konflik di Timur Tengah yang berkepanjangan.

Dengan usia yang relatif muda (69 tahun), ia memiliki potensi untuk memimpin dalam jangka panjang, membawa Gereja menuju masa depan yang lebih inklusif dan relevan.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini 

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Sumber: Instagram @vaticannews

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X