Minggu, 19 Juli 2026

Kelola UMKM Mamin, Perangkat Desa ini Terima Keuntungan Tambahan dan Ciptakan Lapangan Pekerjaan

Photo Author
As'ad Choirudin, Sketsa Nusantara
- Rabu, 30 April 2025 | 19:40 WIB
Ali Ma'sum memeriksa masakan nata de coco sebelum dilakukan pemanenan.  (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)
Ali Ma'sum memeriksa masakan nata de coco sebelum dilakukan pemanenan. (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)

Sketsanusantara.id – Nata de Coco merupakan jenis makanan ringan yang familier pada masyarakat kita. Makanan yang terbuat dari olahan air kelapa tersebut menjadi segar ketika diminum dengan dicampur es.

Namun tak banyak yang tahu proses pembuatannya ternyata melalui UMKM-UMKM yang ada di sekitar kita. Sebelum dikemas bagus oleh pabrikan, UMKM memiliki andil besar proses jadinya air kelapa menjadi nata de coco.

Adalah Ali Ma’sum (57). Warga Dusun Ngampel, Desa Sumberagung, Perak, Jombang ini adalah pelaku UMKM yang bergerak dalam bidang olahan makanan. Sejak 2022, Ali Ma’sum sudah memproduksi nata de coco.

“Mulai usaha ini sejak tahun 2022,” kata pria yang juga sebagai perangkat desa setempat ini.   

Baca Juga: BRI Hadirkan Solusi Nyata Bagi UMKM, Platform LinkUMKM Jadi Jalan Jelita Mengembankan Usaha Makanan Sehat

Ali menjelaskan, awal mula memulai usaha ini melalui temannya yang juga memiliki usaha serupa. Diketahui, meski dia sebagai perangkat desa, Ali merupakan pelaku UMKM dalam bidang olahan makanan dan minuman (mamin). Sebelumnya, produk yang dibuat Ali adalah minuman dengan rasa berbagai macam buah.

Usaha yang menjadi tambahan Ali tersebut berhenti total di tahun 2021 karena pandemi Covid 19. “Selain Covid 19, persaingannya juga banyak. Akhirnya saya memutuskan untuk tutup total,” ujar Ali.

Saat memulai usaha memproduksi nata de coco, modal awal yang didapat dari BRI. “Waktu itu saya mengajukan ke BRI unit Perak. Oleh BRI kemudian disetujui dengan memberikan pinjaman kepada saya sebsar Rp 70 juta,” ungkap Ali.

Uang tersebut, sambung dia, direalisasikan untuk membangun ruang produksi berukuran 7 x 12 m. selain itu juga untuk pembelian peralatan kebutuhan dalam mengolah air kepala menjadi nata de coco. Seperti dandang kapasitas 60 liter, 2.100 buah baki, dan14 unit rak (satu rak berukuran 2 meter x 70 cm)

Baca Juga: Dari Solo untuk Dunia! UMKM Kopi Serius Pangan Nusantara Sukses Go Global Berkat Pemberdayaan BRI

“Selain itu juga untuk pembelian bahan baku. Air kelapa, gula, ZA food grade, dan asam asetat,” tambah Ali.

Sebelum memproduksi dalam skala besar, Ali terlebih dahulu melakukan uji coba produksi hingga 3 kali. Merasa sudah bisa memproduksi, ia kemudian memasak air kelapa sebanyak 6.000 liter untuk dijadikan nata de coco.

“Proses membuat air kelapa dijadikan nata de coco ini membutuhkan waktu 8 hari. Setelah itu baru bisa dipanen,” terangnya.

Awal produksi, Ali mendapat keuntungan yang cukup. Dia merinci, per 1.000 liter air kelapa jadi nata de coco sebanyak 750-800 kg. Sementara  harga per kilo nata de coco adalah Rp 2.200.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X