SketsaNusantara.id – Kisah Slamet (35) memulai usaha beras sejak tahun 2007 di Desa Morosunggingan, Peterongan, Jombang memulai usaha di bidang ketahanan pangan ini patut disimak. Pemuda ini dapat mengembangkan usaha mesin pengupas gabah atau rice huller yang dikelolanya.
Awalnya, dia meneruskan usaha rice huller milik ayahnya yang sudah beroperasi sejak tahun 2007. Menurutnya, berbisnis usaha beras dan menjadi petani adalah salah satu memanfaatkan potensi lahan pertanian yang masih sangat luas di daerahnya.
Melalui usaha yang dirintis sejak lama itu, ia memproduksi beras siap konsumsi dari padi yang ditanam di sawah. Di awal tahun berdirinya usaha tersebut, dia mengatakan produksi masih belum menentu dan pendapatan belum stabil karena aktivitas produksi yang naik turun.
Baca Juga: BRI Permudah Akses Permodalan Pengrajin Tas Keranjang Berbahan Daun Pandan di Jombang
“Dulu awal-awal kita produksi hanya sekitar 1 ton. Itu pun tidak setiap hari, kadang satu minggu, kadang menunggu musim panen,” ujarnya kepada SketsaNusantara.id, Senin 28 April 2025.
Menurutnya, kerja keras, ketelatenan, ulet adalah bagian dari faktor bisa bertahan hingga kini. Tak cukup dengan itu, dukungan pendanaan dari perbankan tak bisa dipungkiri. “Sekitar tahun 2018 saya ditawari untuk mengembangkan usaha dengan meminjam pendanaan lewat KUR di BRI oleh salah satu mantri pegawainya,” kata Slamet.
Untuk mengembangkan usahanya, Slamet tertarik mengambil kredit usaha rakyat sekitar Rp 25 juta di awal kemitraannya dengan BRI. “Saya meminjam Rp 25 juta lewat KUR di BRI untuk menambah jumlah produksi beras saya, dan saya merasakan manfaatnya,” ucapnya.
Baca Juga: BRI Wujudkan Petani di Jombang Raup Keuntungan Berlebih dengan Menanam Buah Melon
Dia menambahkan, dengan pinjaman 25 Juta itu, selama 6 bulan Slamet sudah bisa melunasinya. Setelah itu Slamet mengambil pinjaman lagi senilai Rp 50 juta, 100 juta sampai Rp 200 juta.
Dari pinjaman yang didapat dari BRI, oleh Slamet digunakan untuk modal pembelian gabah milik petani. Selain itu, juga digunakan untuk perawatan mesin dan perbaikan jemuran gabah yang ada di sekitar gudang tempat produksi beras.
Selain punya usaha produksi beras, Slamet juga seorang petani yang juga menanam padi. “Walaupun saya punya usaha produksi beras, tapi saya juga seorang petani yang juga menanam padi,” kata dia.
Baca Juga: Pertahankan UMKM Olahan Mamin, Suyanto: BRI Langkah Solutif Dukung Kami
Saat produksi beras, Slamet membeli padi dari para petani untuk memenuhi kebutuhan produksi nya. Dalam distribusinya, ia juga menjual ke Bulog saat diminta memenuhi kebutuhan.
Toko agen beras menjadi sasaran utama pendistribusian berasnya selain memenuhi kebutuhan Bulog sebagai salah satu mitra kerjanya. “Target pasar saya adalah toko agen beras. Tapi saya juga bermitra dengan Bulog. Saat mereka butuh saya siap memenuhi kebutuhannya,” bebernya.
Artikel Terkait
Kisah Sukses Peternak Ikan Air Tawar Bermitra dengan BRI
Songket Silungkang Go Global, Strategi UMKM Binaan BRI Tembus Ekspor dan Majukan Ekonomi Lokal Lewat Digitalisasi
Dukung UMKM, BRI Salurkan Rp42,23 Triliun hingga Akhir Maret 2025 untuk Ratusan Ribu Pengusaha Kelas Mikro sampai Menengah