SketsaNusantara.id – Sentra kerajinan manik-manik di Desa Plumbongambang, Kecamatan Gudo, Jombang menjadi primadona bagi warga setempat untuk menopang perekonomian. Meski demikian, pengrajin UMKM yang memanfaatkan limbah kaca ini mengalami pasang surut pengrajin.
Dari 30 rumah produksi, kini tinggal 26 rumah produksi yang masih konsisten melayani konsumen dari berbagai daerah bahkan mancanegara.
Salah satu UMKM pengolah kaca menjadi perhiasan ini yang masih eksis hingga sekarang adalah Suloso. Pemilik rumah produksi manik-manik UD Griya Manik ini mengaku, untuk bisa bertahan dalam bisnis ini ia terus mengikuti kemauan pasar.
Baca Juga: UMKM Wewangian Binaan BRI Siap Ekspor, SWR Targetkan Pasar Global di 2026
“Kemauan pasar terhadap hasil manik manik sangat berfariasi dan terus berkembang. Saya mempertahanka itu,” katanya kepada SketsaNusantara.id, Minggu 30 Maret 2025.
Sejak ia mengawali usahanya di tahun 2000, perkembangannya terus mengalami peningkatan. Selain memperhatikan keindahan manik-manik yang dikerjakan, strategi pemasaran juga tidak kalah penting.
“Dalam memasarkan produk manik-manik harus mengikuti perkembangan zaman. Kalau tidak maka akan kalah bersaing dengan lainnya,” terangnya.
Lantas, bagaimana dengan dukungan dari pihak luar. Suloso menandaskan, Desa Plumbongambang merupakan desa binaan dari BRI. “Secara kelembagaan desa, di sini memang binaan dari BRI. Namun secara pribadi saya juga dapat dukungan keuangan dari BRI,” ucapnya.
Sejak mengawali usahanya di tahun 2000, omset hasil penjualan manik-manik hanya mencapai Rp 3 sampai 5 juta. Suloso mengaku, pemasaran waktu itu hanya di regional saja. Mulai dari Surabaya, Malang, dan Kediri.
Setelah itu dia mencoba untuk memperluas pemasaran di tingkat nasional. “Saat itu saya menjual ke Kalimantan dan Bali,” terang Suloso.
Saat memasarkan ke Kalimantan dan Bali, dia langsung membawa barang ka daerah tersebut.
“Waktu itu belum ada model pemasaran seperti ini. Langsung saya tawarkan ke pedagang-pedagang aksesoris yang ada di Bali. Antusias pedagang di sana cukup bagus. Bahkan ada pedagang yang semula menjual sepatu beralih ke manik-manik. Awalnya mereka mencoba sedikit. Karena respon konsumen bagus, mereka lantas beralih barang dagangan,” ceritanya.
Baca Juga: BRI Dorong UMKM Papua Global Spices Tembus Pasar Internasional, Ini Rahasianya!
Artikel Terkait
Dari Arus Sungai ke Arus Listrik, Desa Jatihurip Jadi Model Energi Bersih Berkat PLTMH BRI Peduli
BRI Tetap Buka Selama Libur Idul Fitri 2025, Berikut Jadwal dan Layanan yang Tersedia
Kisah Sukses Peternak Ikan Air Tawar Bermitra dengan BRI
Mudik Makin Nyaman! BRI Sediakan Posko Mudik BUMN dengan Cek Kesehatan, Takjil Gratis, dan Area Bermain Anak