Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa gendola merah sering dimasak bening atau ditumis singkat agar warna dan lendir alaminya tetap terjaga.
Dalam ilmu titen, gendola merah dikenal sebagai sayuran penyeimbang saat tubuh terasa panas atau pegal. Namun, meskipun memiliki khasiat tertentu, gendola merah tetap diperlakukan sebagai sayur pangan, bukan sebagai obat.
Penegasan ini penting untuk menunjukkan bahwa dalam tradisi Jawa, batas antara pangan dan obat dijaga dengan prinsip keseimbangan.
Baca Juga: Kisah Kecubung Tanaman Para Dewa, Dulu Dipakai Ritual Pelengkap Bertemu Tuhan Kini Jadi Pembawa Maut
Sementara itu, binahong menempati posisi yang berbeda. Meskipun daunnya dapat dimakan, binahong sejak awal diposisikan sebagai tanaman obat.
Dalam unggahan tersebut disebutkan, Binahong memang bisa dimasak, tapi di dapur tradisional hanya diolah sesekali, dengan porsi kecil. Rasanya yang lebih berat menjadi salah satu alasan binahong tidak dikonsumsi setiap hari.
Ilmu titen Jawa bahkan memandang binahong sebagai tanaman yang terlalu berdaya jika dikonsumsi terus-menerus. Oleh sebab itu, binahong biasanya dimasak saat tubuh membutuhkan pemulihan, bukan sebagai lauk harian.
Pandangan ini menunjukkan kehati-hatian masyarakat Jawa dalam mengonsumsi tanaman yang memiliki efek kuat bagi tubuh.
“Sing kanggo tamba, aja digawe pangan saben dina,” tulis akun tersebut mengutip pesan orang tua Jawa.
Pesan ini menegaskan bahwa sesuatu yang berfungsi sebagai obat tidak seharusnya dijadikan makanan sehari-hari. Filosofi ini menjadi dasar penting dalam praktik dapur tradisional Jawa.
Lebih jauh, pesan tersebut mengajarkan keseimbangan dalam mengolah bahan pangan. Gendola diposisikan sebagai makanan, sementara binahong digunakan untuk kebutuhan khusus.
Dengan demikian, memasak tidak hanya soal rasa, tetapi juga soal memahami watak tanaman dan dampaknya bagi tubuh.
Dalam konteks ini, ilmu titen berperan sebagai pedoman tidak tertulis yang mengatur hubungan manusia dengan alam.
Pengetahuan ini lahir dari pengalaman panjang dan diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Dapur menjadi ruang penting tempat pengetahuan tersebut dipraktikkan secara nyata.***
Artikel Terkait
Bukan Sekadar Bakmi Jawa, Inilah Sensasi Bakmi Jombor yang Dimasak dengan Arang dan Buka Sampai Dini Hari
Tembang Macapat Jawa Tengah vs Yogyakarta: Sama-Sama Merdu, Tapi Kenapa Rasanya Beda?
Dimulai sejak Abad ke-12, Ini Perkembangan Seni Kaligrafi di Indonesia, Menghidupkan Kriya hingga Membentuk Kampung Kaligrafi di Jawa Tengah
Misteri Ratusan Kapal Penuh Rempah dan Harta Karun Tenggelam di Laut Nusantara, Termasuk Kapal Nazi di Jawa
Tak Banyak yang Tahu, Muhammadiyah Lahir di Era Sultan Jogja yang Kaya Raya, Inilah Jejak Raja Jawa yang Menghubungkan Keraton hingga Gerakan Modern