Kamis, 4 Juni 2026

Tak Banyak yang Tahu, Muhammadiyah Lahir di Era Sultan Jogja yang Kaya Raya, Inilah Jejak Raja Jawa yang Menghubungkan Keraton hingga Gerakan Modern

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Minggu, 14 Desember 2025 | 14:30 WIB
Hubungan yang kuat antara Muhammadiyah dan Keraton Yogyakarta. (jogjaprov.go.id)
Hubungan yang kuat antara Muhammadiyah dan Keraton Yogyakarta. (jogjaprov.go.id)

SketsaNusantara.id - Muhammadiyah tumbuh di Yogyakarta saat keraton berada di puncak kekayaan. Masa ini identik dengan pabrik gula dan rel kereta api. Namun, konteks sosial dan pendidikannya jarang disorot bersama.

Sri Sultan Hamengku Buwono VII memerintah di tengah perubahan besar. Keraton bukan hanya pusat kekuasaan tradisional.

Lingkungan ini bersinggungan dengan pendidikan modern dan organisasi masyarakat.

Baca Juga: Tidak Hanya di Pulau Jawa, Inilah 5 Keraton dari Berbagai Daerah di Indonesia yang Jarang Diketahui, Bukti Sejarah Peradaban di Nusantara

Situasi inilah yang melatarbelakangi kelahiran Muhammadiyah. Organisasi ini muncul saat Yogyakarta berada dalam arus modernisasi kolonial. Peran Sultan menjadi bagian dari lanskap tersebut.

Dari Putra Mahkota hingga Sultan Sugih

Dilansir dari Kratonjogja.id, Sri Sultan Hamengku Buwono VII lahir dengan nama Gusti Raden Mas Murtejo. Ia lahir pada 4 Februari 1839 dari Gusti Kanjeng Ratu Sultan. Ibunya merupakan permaisuri kedua Sri Sultan Hamengku Buwono VI.

Permaisuri pertama tidak memiliki putra laki-laki. Kondisi ini menjadikan Murtejo sebagai penerus tahta. Ia dinobatkan sebagai Sultan pada 13 Agustus 1877.

Baca Juga: Unik! Perpaduan Budaya China, Jawa, hingga Eropa pada Keraton Sumenep, Peninggalan Sejarah di Jawa Timur sejak Abad ke-18

Masa pemerintahannya bertepatan dengan berkembangnya Tanam Paksa. Industrialisasi meningkat, terutama melalui pabrik gula. Tercatat 17 pabrik gula berdiri di wilayah Kasultanan.

Pabrik tersebut dimiliki keraton, swasta, dan Belanda. Dari setiap pabrik, Sultan menerima f 200.000. Florin merupakan mata uang Hindia Belanda.

Sejak 1870, sistem Hak Sewa Tanah berlaku hingga 70 tahun. Distribusi gula mendorong pembangunan rel kereta api. Proyek ini diprakarsai Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij.

Biaya sewa jalur dan lori tebu masuk ke kas keraton. Kondisi ini melahirkan julukan Sultan Sugih.

Pendidikan Terbuka dan Lahirnya Muhammadiyah

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: kratonjogja.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X