Kamis, 4 Juni 2026

Rahasia Fermentasi Bawang dan Madu: Benarkah Bisa Perkuat Imun dan Perbaiki Resistensi Insulin? Temuan yang Mengejutkan dari Proses 14 Hari

Photo Author
Nurul Huda, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 29 November 2025 | 20:00 WIB
Ilustrasi madu dan bawang putih (Instagram/@regainyouth.id)
Ilustrasi madu dan bawang putih (Instagram/@regainyouth.id)

SketsaNusantara.id - Fenomena bawang fermentasi madu kembali menjadi perhatian publik setelah penjelasan informatif dari Denny Kristiawan melalui akun Instagram @regainyouth.id.

Menariknya, dilansir dari laman resmi Lynk.id, Denny bukan sosok baru di dunia kesehatan. Ia dikenal sebagai penasihat kesehatan sekaligus penemu regainyouth.id, serta cukup populer di media sosial karena konten-kontennya yang berfokus pada kesehatan dan gaya hidup lebih baik.

“Fermentasi Bawang + Madu 14 Hari -> SAC Booster untuk Imun,” tulis Denny membuka penjelasannya.

Baca Juga: 7 Kuliner Kalimantan Tengah yang Menggugah Selera, Olahan Ikan hingga Sayur dari Batang Pohon Talas, Warisan Rasa dari Alam Borneo

Ungkapan ini mengundang rasa ingin tahu banyak orang karena proses tersebut tampak sederhana, namun ternyata melibatkan mekanisme biokimia yang kompleks.

Dilansir SketsaNusantara.id dari unggahan tersebut, Denny memaparkan bahwa ketika bawang putih dibelah, tubuh bawang akan melepaskan allicin.

Namun menurutnya, allicin muncul cepat lalu hilang, sehingga senyawa tersebut tidak stabil dan tidak bertahan lama.

Baca Juga: Inovatif! Raihan Jouzu Syamsudin, Siswa SMP Negeri 57 Surabaya Ciptakan Tinta Spidol dari Limbah Kulit Bawang Putih

Allicin memang dikenal sebagai komponen aktif bawang putih, tetapi sifatnya yang mudah terurai membuat manfaatnya tidak selalu optimal.

Inilah sebabnya fermentasi menjadi cara menarik untuk meningkatkan nilai bioaktif bawang.

Denny menjelaskan bahwa ketika bawang difermentasi dalam madu selama 7 hingga 14 hari, terjadi perubahan kimia besar yaitu Allicin menjadi S-allyl-cysteine (SAC).

Baca Juga: 3 Produk Asli Indonesia yang Laris Manis di Belanda, dari Kerupuk Bawang hingga Tempe dan Tahu, Mahal Dijual

SAC atau S-allyl-cysteine adalah senyawa yang lebih stabil dan mudah diserap tubuh. Ia menambahkan bahwa SAC menjadi water-soluble, stabil, bioavailable, yang berarti tubuh dapat memanfaatkannya dengan lebih efektif.

Karena sifatnya yang larut air dan stabil, SAC mampu masuk ke aliran darah dengan lebih mudah dan bekerja secara konsisten.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X