SketsaNusantara.id - Aplikasi World App jadi perbincangan hangat di media sosial terutama saat kemunculannya di Bekasi yang bikin heboh.
Aplikasi ini merupakan bagian dari proyek World Coin yang menawarkan imbalan uang tunai Rp200 ribu hingga Rp800 ribu bagi pengguna yang bersedia memindai wajah hingga scan mata mereka menggunakan alat bernama Orb.
Worldcoin didirikan oleh CEO OpenAI Sam Altman. Proyek ini bertujuan membangun sistem identitas digital global bernama World ID, yang diklaim mampu membedakan manusia asli dari bot AI.
Hingga hari Sabtu, 3 Mei 2025, tercatat ada 29 titik pemindaian aktif di Indonesia, dengan Bekasi menjadi salah satu lokasi terpadat yang paling banyak dikunjungi.
Banyak orang mendaftar melalui aplikasi dan melakukan pemindaian reina mata di kantor World ID di Bekasi.
Namun, di balik iming-iming uang yang menggiurkan, muncul kekhawatiran serius terkait kemanan dan potensi penggunaan data pribadi untuk hal-hal membahayakan pengguna aplikasi.
Baca Juga: Heboh Dugaan Kebocoran 6 Juta Data NPWP, Simak 6 Langkah Mitugasi untuk Menghindari Kebocoran Data
Dilansir SektsaNusantara.id dari akun Instagram @worldidnofficial, dijelaskan bahwa proses pendaftaran World App dapat dilakukan dengan mengunduh aplikasi hingga mengunjungi lokasi Orb untuk pemindaian retina mata, sehingga bisa mendapatkan World ID serta token kripto WLD dengan imbalan uang yang dapat dicairkan dalam 24 jam.
"Teknologi ini bertujuan membedakan manusia asli dari AI serta menangkal pencurian identitas digital," tulis akun @worldidnofficial dalam postingan yang diunggah hari Sabtu, 3 Mei 2025.
"Layanan dan teknologi World telah dikenalkan sejak Februari 2025 di Indonesia, dengan 17 World Spaces Hub tersebar di wilayah di Jabodetabek," pungkasnya.
Imbalan yang ditawarkan aplikasi ini terbilang menggiurkan. Terutama bagi masyarakat menengah ke bawah yang tertarik mendaftar dan melakukan scan retina untuk mendapatkan ratusan ribu, tanpa mengetahui adanya resiko yang mengintai ke depannya.
Aplikasi ini menuai kritik tajam dari warganet. Mereka menyayangkan teknologi ini masuk ke Indonesia tanpa pengawasan dari Komdigi atau Badan Siber padahal data penting termasuk scan mata ini terbilang sensitif dan tidak bisa diberikan sembarangan.
Artikel Terkait
Heboh! Dugaan Aplikasi Telegram Akan Ditutup Atau Dibatasi, Buntut dari Penangkapan Pavel Durov, Cek Penyebabnya
Cara Back Up Data di Telegram tanpa Aplikasi Tambahan, Praktis dan Mudah, Tak Sampai 5 Menit
Whatsapp vs Telegram, Mana yang Lebih Baik? Berikut 7 Keunggulan Aplikasi Pesan Instan Buatan Pavel Durov
Apa Itu Aplikasi Temu? Mengapa Platform Asal China Ini Dilarang Beroperasi di Indonesia?
Siswi SMA 3 Muhammadiyah Jember Temukan Aplikasi Pendeteksi Potensi Jentik Nyamuk Penyebab DBD, Catatkan Prestasi Nasional
Apa itu Koin Jagat? Viral Tren Perburuan 'Harta Karun' yang Bikin Resah Karena Merusak Fasilitas Umum, Komdigi Sampai Ikut Turun Tangan