SketsaNusantara.id - Syekh Siti Jenar adalah sosok yang kontroversial dalam sejarah Islam di Nusantara. Ia merupakan sosok yang menggabungkan ajaran tasawuf Ibnu Arabi dengan kebudayaan Jawa.
Salah satu konsep yang dipegangnya adalah "Manunggaling Kawulo Gusti" yang memiliki makna mendalam dalam tradisi Kejawen.
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Syekh Siti Jenar memiliki seorang guru yang bernama Pangeran Herucokro.
Bahkan, Gus Dur sendiri pernah berziarah ke makamnya yang terletak di Hutan Ketonggo, sekitar 20 km dari Ngawi, Jawa Timur.
Lokasi makam Pangeran Herucokro berada di tengah hutan, jauh dari jalan besar, tanpa akses aspal yang memadai.
Gus Dur sendiri menggambarkan perjalanannya menuju makam tersebut sebagai perjalanan yang tidak mudah. Namun, sebagai bentuk penghormatan, ia tetap menempuh perjalanan itu hingga tiba di makam sang guru.
Baca Juga: Sholat kok Korupsi? Fahruddin Faiz Jelaskan dari Pandangan Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga
"Guru Syekh Siti Jenar itu namanya Pangeran Herucokro. Pangeran Herucokro ini sekarang dimakamkan di hutan Ketonggo, kira-kira 20 km dari Ngawi (Jawa Timur). Saya sudah pernah ke makamnya, 20 km dari jalan besar. Tidak ada aspalnya," ucap Gus Dur, dikutip SketsaNusantara.id dari video kanal Youtube Bangkit TV.
Gus Dur menegaskan bahwa Islam Kejawen dan Islam Santri memiliki akar yang sama.
Hanya saja, keduanya memiliki pendekatan yang berbeda dalam menjalankan ajaran agama.
Baca Juga: Kesesatan Siti Jenar Dibongkar Gus Baha: Ada yang Tidak Disadari Syekh Lemah Abang
Islam Santri lebih mengedepankan aspek syariat, sementara Islam Kejawen banyak dipengaruhi oleh ajaran tasawuf yang disesuaikan dengan budaya lokal.
Sebagai keturunan Sunan Kalijaga dari garis keturunan anak Syekh Siti Jenar, Gus Dur memiliki keterikatan historis dengan kedua tradisi ini.