Perbedaan hanya terletak pada cara pendekatan yang digunakan. Islam Santri lebih menekankan pada syariat dan ibadah lahiriah, sementara Islam Kejawen lebih dekat dengan spiritualitas dan tasawuf.
Namun, keduanya tetap berada dalam bingkai keislaman yang sama.
Pesan utama yang ingin disampaikan oleh Gus Dur adalah pentingnya menjaga harmoni. Tidak ada alasan untuk saling menuding sesat hanya karena perbedaan pemahaman.
Sebab, pada akhirnya, hanya Allah yang berhak menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.
"Kalau soal-soal nanti (di akhirat) ya terserah Gusti Allah saja lah," ujar Gus Dur.
Sebagai tokoh yang lahir dari garis keturunan Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar, Gus Dur menjadi jembatan antara tradisi Islam Santri dan Islam Kejawen.
Ia membuktikan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk berpecah, melainkan kekayaan yang seharusnya dijaga bersama.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!