SketsaNusantara.id - Banyak orang mengira bahwa tradisi kenduri untuk memperingati kematian pada hari ke-3, 7, 40, 100, hingga 1000 adalah peninggalan ajaran Hindu-Buddha.
Namun, anggapan ini ternyata keliru. Jika ditelusuri lebih dalam, tidak ada tradisi serupa dalam kepercayaan Hindu-Buddha.
Di satu sisi, anggapan tersebut memang menjadi semacam justifikasi bahwa Islam datang secara damai di bumi Nusantara.
Faktanya, terlepas dari salah kaprah tersebut, ajaran Islam di Nusantara terbukti bisa diterima dengan baik sejak berabad-abad silam.
KH Agus Sunyoto dalam buku Atlas Wali Songo mengungkap bahwa dalam ajaran Hindu, peringatan kematian seseorang justru dilakukan dalam upacara sraddha yang dilaksanakan 12 tahun setelah kematian.
Sementara dalam ajaran Buddha, tidak ada ritual yang serupa dengan kenduri yang biasa dilakukan oleh masyarakat muslim di Indonesia. Lantas, dari mana sebenarnya asal tradisi ini?
Masih dari sumber yang dikutip SketsaNusantara.id dari buku KH Agus Sunyoto, tradisi kenduri dalam Islam di Nusantara sangat erat kaitannya dengan pengaruh Islam Champa.
Pengaruh ini datang seiring dengan kedatangan para pendakwah Islam dari Champa, terutama Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Raden Ali Murtadho (Sunan Gresik), yang membawa ajaran Islam ke tanah Jawa.
Menurut sejarawan Antoine Cabaton dalam Les Chams Musulmans de l’Indochine Francaise (1907), masyarakat Muslim Champa memiliki tradisi peringatan kematian yang dilakukan pada hari ke-3, 7, 10, 30, 40, 100, dan 1000. Mereka juga menjalankan peringatan haul tahunan, perayaan Hari Asyura, serta Maulid Nabi.
Selain itu, Cabaton mencatat bahwa dalam tradisi Champa, upacara peringatan kematian dimulai dengan doa, yang disebut ngap kamrwai, mirip dengan pembacaan doa dalam kenduri yang dilakukan umat Islam di Indonesia.
Prosesi tersebut diawali dengan pembacaan Al-Fatihah dan pujian kepada leluhur, lalu ditutup dengan jamuan makan bersama, di mana pemimpin agama diberikan kehormatan untuk makan lebih dahulu.