SketsaNusantara.id - Selama ini, pelajaran sejarah di sekolah-sekolah kerap mengajarkan bahwa Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa.
Raden Patah, pendirinya, digambarkan sebagai pemimpin yang menjadikan Demak pusat Islam di Jawa.
Namun, narasi ini lebih banyak diwarisi dari sejarah kolonial Belanda, yang sering kali menekankan konflik antar kerajaan di Nusantara.
Baca Juga: Dimulai Dengan Melawan Ayahnya! Benarkah Kesultanan Demak Runtuh Oleh Konflik di Dalam Kerajaan?
Dalam buku Atlas Wali Songo yang ditulis KH Agus Sunyoto, sejarawan dan penjelajah seperti Tome Pires dalam Suma Oriental memberikan perspektif berbeda.
Menurutnya, Raden Patah bukan satu-satunya tokoh besar Islam di Jawa. Ia menyebut sosok Zainal Abidin alias Sunan Giri II, pemimpin kerajaan Giri di Gresik, yang dianggap lebih tua dari Demak.
Hubungan ini menunjukkan bahwa kerajaan Giri, bahkan Surabaya dan Lumajang, telah lebih dulu mengadopsi Islam.
Masih dilansir SketsaNusantara.id dari bukunya KH Agus Sunyoto, penelitian oleh H. J. de Graaf dan Th. G. Th. Pigeaud menyebutkan bahwa Aria Lembu Sura, pemimpin muslim Surabaya, adalah bangsawan Jawa asli, bukan keturunan asing.
Temuan arkeologi dan studi literatur juga mendukung adanya kerajaan Islam sebelum Demak.
Selain itu, prasasti kuno menunjukkan bahwa kerajaan Lumajang mungkin telah memeluk Islam sejak abad ke-12, ketika Singasari masih berkuasa.
Lumajang merupakan kabupaten yang berbatasan langsung dengan Probilinggo di utara dan Jember di sebelah timur.
Lumajang juga dikenal sebagai salah satu kerajaan di Jawa Timur yang telah mengenal dan mengadopsi ajaran Islam lebih awal, sebelum Demak muncul sebagai pusat kekuasaan Islam di Jawa.