Namun setelah menjegal sang adik, Raden Mas Sayyidin pun naik tahta dengan gelar Amangkurat I.
Setelah Sultan Agung mangkat, Amangkurat I memimpin Mataram Islam dengan wilayah kekuasaan yang sangat luas.
Sayangnya, caranya memimpin bertolak belakang dengan sang ayah, Sultan Agung.
Amangkurat I dikenal sebagai raja yang semena-mena, dzalim hingga bengis.
Bahkan ia bersikap lembek terhadap kolonial Belanda yang bebas mencengkram hasil bumi di wilayah Mataram.
Sebagai pemimpin yang otoriter, Amangkurat I tak hanya menjegal adiknya, Pangeran Alit namun juga membunuh anak bungsu Sultan Agung saat berusaha menyerang istana.
Tak hanya itu, kekejamannya yang banyak dibahas sejumlah peneliti sejarah yakni pembantaian ulama.
Ia merencanakan pembantaian orang hingga ulama-ulama pendukung Pangeran Alit.
Dalam buku karya H.J. de Graaf, De Regering van Sunan Mangku-Rat I Tegal-Wangi, vorst van Mataram, 1646-1677, Amangkurat I berpesan agar jangan seorang pun dari pemuka-pemuka agama dalam yuridiksi Mataram luput dari pembunuhan.
Lalu dibuatlah daftar nama para ulama termasuk keluarganya.
Mereka lalu dikumpulkan di alun-alun Plered untuk kemudian dibantai dengan keji.
Baca Juga: Mengenal 2 Permaisuri Sultan Agung, Nama Asli hingga Keturunan yang Menjadi Putra Mahkota