SketsaNusantara.id - Letnan Jenderal Siswondo Parman atau Letjen S Parman adalah salah satu Pahlawan Revolusi yang menjadi korban kekejaman G30S PKI.
Kisah hidupnya selalu menarik untuk dibahas, salah satunya soal momen-momen Letjen S. Parman menjelang peristiwa tragis tersebut seperti sudah ada firasat sebelum meninggal dunia.
Dalam buku," Kunang-Kunang Kebenaran di Langit Malam," yang ditulis oleh putera puteri dan saudara pahlawan revolusi menggambarkan bagaimana sosok Letjen S. Parman menjelang peristiwa berdarah 30 September 1965 atau dikenal dengan peristiwa G30S PKI.
Istri Letjen S. Parman, Ny. Sumirahayu menuturkan ada sejumlah firasat yang dirasakan suaminya sebelum terjadinya penculikan.
Firasat pertama tampaknya dirasakan setengah tahun sebelum peristiwa G30S PKI, ketika Letjen S. Parman mengajak jalan-jalan istrinya ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.
Kala itu, Letjen S. Parman melakukan perjalanan dan entah kenapa memutar balik ingin melewati TMP Kalibata dan menghentikan mobilnya sejenak saat berada di tempat para pahlawan kemerdekaan disemayamkan.
"Wah, ternyata ini Taman Makam Pahlawan. Inilah tempat bahagia bagiku, Jeng. Jika aku gugur nanti, jangan lupa aku bisa dimakamkan di sini dengan batu nisanku nanti ditulis Pejuang Sejati, kata Letjen S. Parman pada istrinya saat itu seperti dikenang Ny. Sumirahayu.
Perkataan itu, tak dirasakan Sumirahayu sebelumnya yang ternyata menjadi salah satu pesan terakhirnya sebelum meninggal dunia.
Beberapa bulan setelahnya, Letjen S. Parman menyerahkan foto yang dibingkainya untuk sang istri dan dibilangnya sebagai peninggalan terakhir.
"Jeng, ini kenang-kenangan untukmu. Hanya foto inilah satu-satunya peninggalanku untukmu," kata Jenderal Parman kepada istrinya dan tak disangka foto berbingkai itu akan menjadi peninggalan terakhirnya sebelum meninggal dunia.