SketsaNusantara.id - Sejarah mencatat benturan antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Partai Komunis Indonesia (PKI) menjelang geger politik 1965.
Bahkan, Bung Karno selaku presiden dan Pemimpin Besar Revolusi sempat marah dengan sikap NU terkait kehadiran PKI di kabinet pasca Pemilihan Umum (Pemilu) 29 Setember 1955.
Secara mengejutkan, NU yang waktu itu terhitung sebagai partai baru berhasil memperoleh 45 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Dilansir SketsaNusantara.id dari Buku Putih Benturan NU-PKI 1948-1965, Partai NU menempati peringkat ketiga dengan total perolehan suara sebesar 6.955.141 orang pemilih.
Sementara itu, PNI dan Masyumi mendapatkan 57 kursi, sedangkan PKI memperoleh 39 kursi.
Di sejumlah wilayah, Partai NU berhasil memenangkan suara mayoritas, tetapi tidak sedikit pula PKI memenangkan suara di daerah-daerah lain.
Semakin menguatkan PKI dalam peta politik saat itu membuat NU semakin cemas. Pasalnya, ada potensi ancaman ketentraman dalam beragama dan negara.
Melihat kumunculan 4 partai besar dari hasil Pemilu 1955, Bung Karno memandang perlunya Kabinet Kaki Empat.
Kabinet Kaki Empat adalah hasil Konsepsi Presiden yang dibentuk berdasarkan pertimbangan perlunya kabinet lengkap yang terdiri dari partai-partai besar.
Tidak semua partai sepakat dengan keputusan Bung Karno. Bahkan, NU bersama Masyumi, PSII, Partai Katolik dan lain-lain menolak terbentuknya itu.
Alasannya, mereka enggan menerima kehadiran wakil PKI di kabinet.