SketsaNusantara.id- Maulana Yusuf, yang memerintah sebagai Raja Banten pada usia mendekati 70 tahun, adalah sosok yang penuh kebijaksanaan dan keteguhan.
Sebelumnya dikenal sebagai Pangeran Yunus dan adik dari Pangeran Arya Jepara serta Fathimah, istri kedua Pangeran Abdul Malik, Maulana Yusuf membawa banyak perubahan signifikan bagi kerajaannya.
Sebagai raja, Maulana Yusuf merumuskan berbagai undang-undang penting, termasuk aturan suksesi dan penetapan gelar keturunan seperti "perNTUS," "perMAS," "perAGUS," "perNTOL," dan "AYIP."
Dalam upaya memperkuat pertahanan dan kesejahteraan kerajaannya, ia memerintahkan pembangunan benteng kraton Banten, termasuk "Balurti," benteng luar yang dibangun dengan batu bata, karang, dan pasir, serta "Cepuri”.
Ini merupakan benteng dalam yang dibangun oleh Sultan Haji dengan bata merah dan pasir.
Selain itu, ia juga berkontribusi pada pengembangan pertanian di daerah Serang dan menciptakan Tasik Ardhi sebagai pusat pengairan dan tempat rekreasi keluarga.
Sebelum menjadi raja, Maulana Yusuf menikahi beberapa wanita dari kalangan rakyat biasa, seperti dilansir SketsaNusantara.id dari postingan Facebook Sabidi Bujangga.
Namun, setelah naik takhta, ia menikahi Ratu Ayu Khadijah, keturunan Pangeran Abdul Rohman, dan dikaruniai dua anak, yaitu Ratu Belimbing dan Pangeran Muhammad Nashruddin, yang diharapkan akan menjadi pewaris tahta.
Walaupun lahir dari keturunan Arab-Sunda melalui ayahnya Maulana Hasanuddin dan keturunan Champa-Jawa dari ibunya, wajah Maulana Yusuf sangat mencerminkan kepribadian Sunda.
Namun, hal ini menjadi bahan fitnah oleh pihak-pihak tertentu, termasuk orang-orang Demak yang datang ke Banten pada tahun 1579 untuk menghindari kerusuhan di tanah mereka.