Dengan izin Tuhan, Cakraningrat berhasil menyembuhkan Gusti Ayu, dan sesuai janji sang raja, mereka pun menikah.
Setelah menikah, Gusti Ayu dibawa ke Madura, dan di sana ia memeluk agama Islam, mengganti namanya menjadi Raden Ayu Siti Khotidjah.
Setelah lama tinggal di Madura, Raden Ayu merasa rindu kampung halamannya dan memutuskan untuk kembali ke Bali.
Ia pulang dengan diiringi prajurit dan membawa pusaka dari suaminya.
Kepulangannya disambut penuh kegembiraan oleh keluarga kerajaan, yang belum tahu bahwa Gusti Ayu kini memeluk agama Islam.
Namun, malang tak dapat dihindari. Ketika sedang melaksanakan salat Maghrib, salah seorang patih kerajaan melihatnya dalam mukena putih.
Patih tersebut, yang tidak tahu tentang keislaman Raden Ayu, mengira bahwa ia sedang melakukan praktik ilmu hitam.
Dalam ketakutan, sang patih melaporkan hal itu kepada Raja Pemecutan.
Tanpa menyelidiki lebih jauh, sang raja langsung memerintahkan pembunuhan putrinya.
Raden Ayu, yang sudah merasakan firasat buruk, akhirnya pasrah dan tidak melawan takdir.
Ia memberikan petunjuk kepada patih tentang cara membunuhnya, dengan tusuk konde emas pemberian suaminya.