SketsaNusantara.id – Di tengah suasana asri dan keramatnya Makam Raden Ayu Siti Khotidjah di kompleks pemakaman Hindu Setra Agung Badung, Denpasar, tersimpan sebuah kisah tragis yang menyayat hati.
Makam di Bali ini tidak pernah sepi dari peziarah, baik Muslim maupun Hindu, terutama menjelang Ramadan.
Mereka datang tak hanya untuk berziarah, tetapi juga mengenang kisah pilu sang putri raja yang tewas di tangan ayah kandungnya.
Dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Kraton Segoro Channel, Raden Ayu Siti Khotidjah, yang sebelumnya dikenal sebagai Gusti Ayu Made Rai, adalah putri cantik Raja Pemecutan, I Gusti Ngurah Gede Pemecutan.
Kisah hidupnya yang dramatis dan penuh liku menarik perhatian banyak orang hingga kini.
Kecantikan Gusti Ayu Made Rai tersohor di seluruh Bali, membuat banyak pangeran ingin meminangnya.
Namun, takdir berkata lain. Di puncak keindahannya, ia sakit parah, terserang penyakit kuning yang sulit disembuhkan.
Berbagai pengobatan gagal, dan sang raja pun putus asa. Demi kesembuhan putrinya, Raja Pemecutan menggelar sayembara: siapa pun yang berhasil menyembuhkan putrinya, akan dihadiahi imbalan besar.
Jika penyembuhnya seorang pria, ia akan menikah dengan Gusti Ayu; jika wanita, ia akan diangkat menjadi anak raja.
Berita sayembara ini sampai ke telinga seorang ulama di Yogyakarta, yang kemudian mengutus Pangeran Cakraningrat IV dari Madura untuk membantu.